Jogja Selalu Istimewa

Jogja always will be my home sweet home. Saya lahir, tumbuh, dan menamatkan masa studi sarjana saya di Jogja. Meskipun begitu, Jogja untuk saya bukan sekedar kampung halaman yang juga juga terkenal sebagai kota pelajar atau kota budaya, ramai karena Malioboro, Prambanan, Parangtritis atau Keraton juga bukan sekedar dikenal karena gudeg dan bakpia. JOGJA lebih dari itu! Jogja memikat siapapun dari segala sisinya. Ujung utara hingga selatan, membentang dari barat sampai timur. Jogja menawarkan keindahan dengan caranya sendiri.

Bersiaplah! Fasten your seat belt! Kita akan mulai tur mengelilingi Jogja. Mulai dari ujung selatan, Jogja memiliki garis pantai yang cukup panjang, di dalamnya terdapat potensi pantai cantik yang sebagian besar masuk di kabupaten Gunungkidul dan Bantul, deretan pantai berpasir putih bersih hingga pasir hitam lembut menghiasi memberikan pesona seolah tiada habisnya. Pantai selatan  memang dikenal karena bumbu mitos dan cerita lokal. Selain itu, masih banyak pantai pantai alami yang belum terjamah oleh wisatawan, menawarkan keindahan magis bagi siapapun yang menikmatinya. Konon, pantai di selatan Jogja ini menyajikan sunset dan sunrise yang sempurna. Kehindahan double yang jarang dimiliki oleh pantai lainnya.

Bergerak melambat ke tengah kota, pemandangan pantai mulai digantikan dengan deretan gedung gedung saksi pergerakan roda ekonomi dan pendidikan masyarakat Jogja. Beberapa universitas terbaik Indonesia terlihat disana. Nampak mahasiswa dari berbagai suku dan budaya saling bercengkrama hangat satu dengan yang lainnya. Pusat pusat perekonomian tidak kalah riuh meramaikan kota Jogja, industri pangan hingga pakaian menawarkan cipta rasa dan keuinikan tersendiri. Terdengar tawa renyah para penjaja batik dengan para tukang becak. Terdengar pula nyaringnya suara sepatu kuda yang mengelilingi kota mengantarkan para wisatawan lokal maupun mancanegara. Sesekali kita juga akan dimanjakan oleh alunan orkestra musik tradisional yang mengalun lembut. Jikalau lebih cermat mengamati, para penjaja seni pun sedang asyik melukis wajah seseorang di deretan warung kaki lima. Berbagai macam kerajinan tangan yang dapat kita beli dari harga seribuan rupiah hingga jutaan terpampang rapi di sepanjang Malioboro.

Beralih ke sudut sudut kota, pagelaran musik dan budaya mulai ditawarkan. Pemainnya dari anak muda hingga kakek tua yang mulai keriput. Mulai dari budaya lokal yang sarat akan simbol simbol kearifan lokal hingga budaya modern bukti alkuturasi budaya. Mulai dari duduk bersila dan menabuh gendang, hingga jungkir baik diatas sepeda. Keduanya memiliki penikmat tersendiri.

Bergerak ke utara, perjalanan akan sedikit menukik dan menanjak, hawa dingin perlahan mulai menyergap lembut. Ya…kamu sudah memasuki kawasan jalan Kaliurang. Lagi lagi kamu akan mendengar pergerakan roda industri yang mulai ramai di kiri kanan jalan. Jikalau kamu sudah lelah dan lapar, beristirahatlah sejenak menikmati wisata kuliner yang menjamur di daerah ini. Menawarkan berbagai citarasa mulai dari kuliner khas Jogja hingga kuliner bercita rasa peranakan. Ada pula masakan Jepang, Korea dan sajian ala Eropa. Dijamin lidah akan dimanjakan oleh rasa yang kaya dan terus hidup di seantero mulut.

Setelah itu, kita akan bergerak terus ke arah utara, memasuki kawasan Kaliurang. Dis inilah lereng Merapi yang akan mulai membuat kita takjub, jikalau cuaca cerah kita dapat melihat puncak Merapi yang begitu gagah menjulang. Sisa sisa erupsi Merapi 2010 masih dapat dirasakan. Rasakan pula sensasi lain dengan menyewa mobil offroad yang akan membawa kita berkeliling menikmati indahnya panorama alam Kaliurang dan melihat sisa sisa erupsi Merapi yang membuat kita menyusukuri atas keselamatan yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Oya, setelahnya jangan lupa singgah ke Gardu Pandang, di sini kita dapat melihat kota Jogja dari sudut 360 derajat. Memberimu kesempatan untuk menikmati Jogja dari sisi lain.

Jikalau rasa lelah dan lapar mulai menyergap rasanya Jogja siap menawarkan wisata kuliner malam yang juga istimewa. Bakmi Jawa yang tersebar di seantero Jogja memiliki citrasanya masing – masing, sebut saja bakmi Pak Pele atau bakmi Kadin yang legendaris dan masih banyak lainnya atau gudeg yang di setiap sudut kota Jogja dapat dijumpai, harap bersabar karena warung gudeg favorit warga kota biasanya memiliki antrian panjang bersiaplah datang lebih awal, atau hanya sekedar ingin kongkow di cafe yang menawarkan beragam pilihan menu kopi. Aku yakin salah satunya akan menjadi tempat favorit untuk bertukar cerita dengan sahabat atau kerabat. Jika memang sekujur badan sudah lelah dan rasa kantuk tak tertahan lagi. Silahkan pilih tempat menginap yang banyak dijumpai di sekitaran pusat kota. Harganya pun beragam,  mulai dari merogoh kocek ala backpacker sampai hotel mewah yang menyajikan pelayanan ramah nan istimewa ala Jogja. Kalau bosan dengan hotel yang terkesan formal, bisa juga memilih guest house yang homy. Soal ini, Jogja tak pernah mengecewakan. Aku yakin istirahat malammu akan dibuatnya nyaman dan berkesan. JOGJA always be the best!

Jadi tunggu apalagi, tak perlu khawatir merogoh kantong dalam – dalam, karena Jogja menyajikan banyak opsi dengan keramahan dan romantisme yang sama hangatnya. Tak perlu ragu apalagi malu, Jogja akan selalu menyambutmu setiap saat, semangat kami pun tak pernah akan luntur meski pernah dihujani abu, semangat kami juga tak akan pudar meski tanah ini pernah bergetar hebat. Jogja tetap akan selalu hangat.

Oleh : Fransisca Christanti

Share
Share