Mutiara di Sudut Yogyakarta

Tak dapat dipungkiri memang, Yogyakarta dan isinya adalah magnet dahsyat bagi para wisatawan. Setiap atom yang menyusun partikel daerah istimewa ini telah menyimpan sihir luar biasa untuk menghipnotis setiap pasang mata. Mulai dari sejarah, suasana, budaya, masyarakat, bahkan kebiasaan yang sederhana, semua telah menjelma menjadi pesona.

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata “Yogyakarta”? Tak usah menjawab, biar saya tebak. Suasana malioboro yang siap menggoreskan kekaguman, candi prambanan yang gagah dan menantang, atau kraton Jogja yang menyimpan banyak kenangan? Jika hanya itu, maka anda belum tahu apa itu “Yogyakarta”. Ada lebih banyak cerita di dalamnya. Kemegahan alam membentang luas membentuk mutiara yang berbeda. Semuanya dapat anda temui di sudut selatan Yogyakarta, Gunungkidul.

Belasan pantai-pantai cantik berderet membentuk untaian warna biru mempesona. Warna biru itu tak henti-hentinya menyambar warna putih pasir pantai. Membasahi batu-batu lugu yang tersusun di tepinya. Dari sisi timur hingga barat, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam lautan selatan.

Pantai Indrayanti, Krakal, Kukup, Baron, Sepanjang, semuanya terangkum dalam keindahan. Putih pasirnya bersih, dihiasi batu-batu yang bercecer rapi. Nelayan-nelayan datang dan pergi berlayar. Mereka membawa ikan-ikan segar, lalu menepi di samping tebing yang tinggi. Datangilah bapak-bapak tua penduduk lokal itu. Jangan heran jika hanya dengan Rp 130.000,00 anda bisa mendapatkan ikan-ikan bakar lezat dan nikmat untuk 8 orang. Hidangan ini sempurna untuk melengkapi kunjungan kita pada mutiara pertama.
Sebuah lorong rahasia memanjang di bawah kaki berpijak. Goa Pindul sudah menjadi tempat misteri yang selalu menggoda untuk di kunjungi. Sumber air hijau jernih mengalir dari dan ke dalam bebatuan besar yang menakutkan. Goa sepanjang 300 meter ini membiarkan sungai bawah tanah mengalir indah di dalamnya. Duduklah di atas ban pelampung yang empuk, lalu tataplah langit-langit goa yang gelap. Tetesan air goa akan menyentuh wajah kita yang sedang terpesona melihat keanggunan bebatuan stalaktit. Setelah sekian menit mengarungi sungai ini, mulut goa akan menyambut kita dengan cahaya. Sungguh, keindahan yang tak terkira.

Dari Goa Pindul di Karangmojo, beranjaklah ke utara menuju kecamatan Playen, Gunungkidul. Sebuah air terjun megah tengah menanti. Sungai jernih yang memperlihatkan dasarnya ini mengalir begitu pelan. Sangat cocok bagi perahu sederhana yang berlayar di atasnya. Membuat kita, para penumpang berkesempatan untuk memandang barisan batu putih kecoklatan yang membentuk dinding di tepi sungai. Di atasnya, tumbuh pepohonan lebat yang sarat akan warna daun hijau pekat. Manis sekali, apalagi ketika suara percikan air mulai terdengar. Di tengah hamparan tanah tandus, sebuah sungai hijau mengalir lalu menjatuhkan diri di antara batu-batu besar yang berdiri kokoh. Air Terjun Sri Gethuk, kesejukan di antara kekeringan sebagai bukti kekuasaan Tuhan.

Lalu kita hampir meninggalkan Kabupaten Gunungkidul. Bukit batu mencoba menghalangi langkah kaki. Tak akan dimaafkan jika kita tak mencoba menjamahnya. Gunung Api Purba, seakan menjadi saksi matahari yang ingin bersembunyi. Mendaki gunung ini bukanlah hal yang sulit. Sore hari ketika senja di pelupuk mata, carilah puncaknya. Saksikan Yogyakarta menyambut malam! Si bola oranye itu perlahan akan menghilang, sedangkan bola-bola kecil akan tersebar membentuk hamparan. Menatap mentari tenggelam dari puncak Gunung Api Purba akan menjadi kenangan luar biasa bagi anda.
Sudah saya katakan bahwa bola-bola kecil tersebar membentuk hamparan. Mereka bersinar terang membentuk pola-pola Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada jalan raya, ada peradaban penjual dan pembeli di malioboro sana, ada pula lampu kendaraan yang selalu menyala. Dari Bukit Bintang, hamburan jutaan lampu akan menjelma bintang-bintang yang menawan. Tak akan bisa anda lupakan, semua mutiara yang tersimpan di sudut Yogyakarta ini.

Oleh : Suma Atika Wati

Share
Share