Selalu Malas Memulai Sesuatu? Bisa Jadi Tanda Procrastinating

Pernah nggak sih merasa sangat malas mengerjakan sesuatu sehingga memilih untuk menunda pekerjaan itu? Bahkan kalau bisa sejam sebelum deadline baru mulai?

Atau, sudah buka laptop untuk mulai mengerjakan, tapi bukannya file yang dibuka justru video youtube, kemudian lanjut ambil smartphone untuk scrolling TikTok? Awalnya berpikir “Buka Instagram sebentar ah, 10 menitan”, tanpa sadar keterusan hingga 1, 2 jam.

Pernah? Itu artinya kamu sedang melakukanprocrastinating.

Prokrastinasi timbul bukan hanya karena malas saja, tapi dari kebiasaan menunda yang dibiarkan. Dan jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus, dapat berdampak sangat buruk terhadap produktivitas kita sebagai manusia. Bahkan, kesehatan mental seseorang.

Selalu Malas Memulai Sesuatu? Bisa Jadi Tanda Procrastinating

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Psychological Bulletin (Steel, 2007), sekitar 20% orang dewasa secara kronis memiliki kecenderungan untuk menunda-nunda pekerjaan. Umumnya, penyebab dari prokrastinasi bukan karena seseorang tidak mampu, melainkan karena adanya rasa takut gagal, perfeksionisme, atau kurangnya motivasi.

Permasalahannya, semakin sering seseorang menunda, maka perasaan bersalah dan tekanan mental pun akan semakin menumpuk. Hal ini justru membuat seseorang semakin enggan untuk memulai. Sebuah siklus yang berulang dan sulit diputuskan.

Saya pernah secara tidak sengaja menemukan ucapan yang sangat bagus terkait hal ini. Saya lupa siapa yang mengatakannya waktu itu, tapi kurang lebih kalimatnya berbunyi:

“Stress itu bukan berasal dari banyaknya pekerjaan, namun dari menunda pekerjaan.”

Sebuah ungkapan yang saat itu cukup merubah sudut pandang saya dalam melihat beban kerja.

Namun, kondisi ini masih dapat diatasi. Salah satu cara efektif adalah dengan memulai dari hal-hal kecil. Misalnya, menerapkan teknik Pomodoro, yaitu bekerja selama 25 menit dan beristirahat selama 5 menit atau membuat daftar tugas harian yang realistis. Yang terpenting, jangan menunggu datangnya “mood” atau suasana hati. Mulailah terlebih dahulu, karena motivasi untuk menyelesaikansering kali muncul setelah kita mulai bergerak.

Sumber : klik

Sudah Waktunya ada Aturan Khusus untuk Layangan!

Layangan. Permainan tradisional yang banyak dimainkan anak-anak Indonesia ini telah menjerat banyak korban. Permainan yang seharusnya memberikan rasa suka cita, seringkali justru meninggalkan luka.

Benang layangan yang dikenal dengan istilah gelasan atau benang kaca adalah penyebabnya.

 

Benang ini memiliki karakteristik yang khas. Permukaannya sangat tipis, kasar, tapi tajam. Sehingga sangat mudah menggores kulit bahkan ketika dipegang dengan hati-hati. Dan karena benang ini punya permukaan yang kasar, sifatnya sangat abrasif dan tahan gesekan. Inilah yang menyebabkan benang ini dipilih untuk bermain layangan, terutama jika ada adu layangan untuk memotong benang lawannya. Selain itu, sifatnya yang tidak lentur membuat benang ini mudah putus jika saling diadu dengan benang kaca lainnya dalam kondisi tegang.

 

Karakteristik benang kaca inilah yang membuatnya diam-diam menjadi senjata mematikan. Dan karena layangan mayoritas dimainkan oleh anak-anak, mereka belum benar-benar memahami resiko yang disebabkan benang tersebut jika dibiarkan berserakan dan tertiup angin.

Sudah banyak korban yang mengalami luka akibat benang kaca, bahkan beberapa diantaranya harus meregang nyawa.

Saya rasa sudah waktunya ada aturan khusus yang meregulasi siapa, kapan, dan dimana seseorang boleh bermain layangan. Dengan harapan tidak ada lagi korban yang terluka atas kelalaian orang lain.

Sumber : klik

Sharing: Momen Agustusan Tahun Ini!

Tidak terasa, sudah 80 tahun Indonesia Merdeka. Selamat dirgahayu ke-80 bagi negeri tercinta ini. Semoga kedepannya semakin banyak perubahan menuju kebaikan.

Bagaimana cara Gan dan Sis menikmati momen 17 Agustusan kemarin? Apakah hanya upacara saja atau ada kegiatan lain yang dilakukan?

Saya bersyukur karena momen 17 Agustusan di tempat saya masih dirayakan dengan meriah. Terlepas dari banyaknya kekecewaan terhadap kondisi pemerintahan saat ini, saya dan bapak-bapak kompleks akhirnya sepakat bahwa anak-anak tetap berhak merasakan kemeriahan hari kemerdekaan, seperti yang dulu kita alami.

Sehingga pada Sabtu malam, kami mengadakan doa dan dilanjutkan dengan makan malam bersama warga. Kami berdoa untuk kebaikan bangsa ini, lalu menutup acara dengan kegiatan ramah tamah demi menjaga solidaritas antar tetangga. Anak-anak pun ikut terlibat dalam acara ini, termasuk dalam hiburan sumbangan lagu dari siapa pun yang percaya diri untuk tampil menyanyi.

Pada hari Minggu kemarin, 17 Agustus 2025, kami menggelar lomba dadakan dengan peserta seluruh warga. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga bapak-bapak semuanya diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini. Dengan hadiah kecil-kecilan dari sumbangan sukarela warga, acara pun terlaksana dengan meriah. Mulai dari lomba makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, lomba himpit dan meletuskan balon, hingga lomba estafet air yang berakhir dengan semua orang basah kuyup dan penuh tawa.

Meski tinggal di kompleks, saya bersyukur karena Tuhan menganugerahi kami lingkungan yang solid dan guyub. Anak-anak saya pun bisa merasakan kehangatan rukun warga dan semangat 17 Agustusan yang sama seperti yang saya rasakan di masa kecil dulu. Sesuatu yang mungkin tidak semua anak-anak rasakan sekarang.

Sumber : klik

Mengenang Tomcat: Serangga yang Bikin Heboh Tahun 2012

Masih ingat dengan Tomcat? Serangga yang bikin heboh jagat raya Indonesia pada tahun 2012. Tomcat menjadi penyebab utama banyak korban, terutama anak-anak yang mengalami iritasi parah pada kulitnya.

Lebih dari satu dekade lalu, wabah Tomcat sendiri bermula dari Kota Surabaya (kalau tidak salah ingat) dan kemudian menyebar di kota dan kabupaten sekitarnya, sebelum menjadi sensasi Nasional.

Bersamaan dengan mulai maraknya penggunaan smartphone pada tahun itu, media sosial langsung heboh dengan fenomena Tomcat, hingga membuat kepanikan. Banyak yang mengira bahwa serangga ini bisa masuk rumah dan secara sengaja menyerang manusia. Sampai banyak yang heboh memasang kelambu kasur agar Tomcat tidak menyerang mereka disaat tidur lelap. Dulu, setiap kali menemukan Tomcat, wah hebohnya bukan main. Sampai di foto-foto segala, kalau ingat kejadian waktu itu agak lucu juga ya.

Lalu apa itu Tomcat?

Tomcat adalah sejenis serangga kecil dari keluarga kumbang rove (Staphylinidae), dengan nama ilmiah Paederus. Meskipun bentuknya mirip seperti serangga pada umumnya, keunikan utama hewan ini adalah warnanya yang mencolok seperti macan. Dengan warna oranye kemerahan dan hitam, serangga ini sangat mudah dikenali di alam. Seperti yang kita ketahui, warna mencolok pada hewan di alam merupakan pertanda bahwa hewan tersebut memiliki potensi bahaya.

Di dalam tubuh Tomcat mengandung racun bernama pederin, salah satu zat kimia alami paling beracun yang diketahui berasal dari serangga. Menariknya, pederin ini bukan diproduksi langsung oleh tubuh Tomcat, melainkan oleh bakteri simbion yang hidup di dalam tubuhnya.

Ketika Tomcat merasa terganggu atau tertekan, racun ini akan keluar dan menempel di permukaan kulit, yang kemudian menyebabkan iritasi hebat dalam hitungan jam. Racun ini menyebabkan rasa gatal, panas, kulit kemerahan, bahkan dalam beberapa kasus menimbulkan luka seperti melepuh yang bisa berlangsung selama berhari-hari.

Meskipun nama Tomcat sudah jarang terdengar, fenomena Tomcat tetap menjadi salah satu yang paling saya ingat. Sekarang, saya tidak pernah menemukan serangga ini lagi di alam.

Sumber : klik

Air Bersih Dunia Semakin Menipis, Saatnya untuk Beraksi!

Ada satu informasi menarik tapi juga miris yang saya baca dari halaman Kumparan, yaitu semakin menipisnya cadangan air bersih bumi. Artikel tersebut menyoroti hasil studi global yang dilakukan oleh Hrishikesh A. Chandanpurkar dari FLAME University, India, bekerja sama dengan Arizona State University, yang menyebutkan bahwa cadangan air tawar di daratan dunia telah menyusut dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tahun 2002. Peneliti juga menyebutkan bahwa laju pengeringan ini begitu dahsyat, sehingga Setiap tahun, area yang mengering bertambah setara dua kali luas negara bagian California.

Tentunya hal ini merupakan peringatan serius bagi keselamatan pasokan air bersih dunia — tidak hanya sebagai ancaman jangka panjang, tetapi juga sebagai krisis yang sedang berlangsung saat ini.

Kondisi ini tentu tidak bisa kita anggap sepele. Krisis air bukan lagi isu masa depan, melainkan permasalahan yang terjadi sekarang. Oleh karena itu, sudah saatnya kita semua mengambil peran aktif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Salah satu langkah paling sederhana adalah dengan mengurangi penggunaan air untuk hal-hal yang tidak perlu.

Kita bisa memulainya dari rumah dengan cara yang sederhana.

Misalnya, menampung air bekas cucian tangan atau air bilasan sayuran untuk menyiram tanaman di halaman. Air bekas dari akuarium atau kolam ikan, yang kaya nutrisi, juga sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanah dan bisa digunakan untuk menyiram jalan atau kebun. Selain itu, membiasakan diri untuk mematikan keran saat menyikat gigi atau mencuci piring, serta memperbaiki kebocoran kecil di rumah, bisa menghemat ratusan liter air setiap bulannya.

Dan buat yang memiliki lahan lebih, bisa mulai menanam pohon untuk menjaga agar air tanah tetap lestari.

Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara kolektif, akan memberikan dampak besar. Setiap tetes air yang kita hemat hari ini adalah investasi untuk kehidupan di masa depan. Mari bersama-sama menjadi bagian dari solusi dari permasalahan global ini.

Sumber : klik