Juwet, Buat Masam yang Jadi Primadona Di Masa Kecil

Pernah lihat Juwet? Saat masih kecil saya sangat suka makan buah ini. Berbentuk bulat sedikit lonjong, buah ini memiliki rasa masam yang segar dengan sentuhan manis dan sepet di akhir.

Habis asyik main di sawah, atau lelah setelah seharian bermain sepak bola saat hari minggu, juwet adalah camilan yang enak dan murah buat anak-anak desa. Berbekal kayu panjang seadanya, dengan asyik saya dan teman-teman berburu juwet di kebun tetangga.

Makannya bagaimana? Tinggal di-hap saja atau tambahkan garam sedikit dan dikocok-kocok hingga merata untuk mengurangi sensasi sepet dan meningkatkan rasa manis dari si juwet. Tapi kalau lagi mode serius, saya dan teman-teman akan menyiapkan bumbu rujak manis ala kadarnya dan menyediakan buah-buahan lain yang bisa didapatkan di kebun rumah. Seperti mangga atau kedondong, tergantung yang sedang berbuah pohon apa saat itu.

Kalau mengingat masa lalu bawaannya selalu kangen ya, karena sesimpel mengkonsumsi makanan jadul yang rasanya nggak enak-enak amat pun senangnya minta ampun di jaman itu. Bahkan sampai berebut untuk dapat yang paling banyak dengan sesama kawan.

Kira-kira ada yang belum pernah mencoba juwet di sini? Atau buah ini punya sebutan lain di daerah kalian?

Sumber : klik

Bahaya Kasih Sayang yang Berlebihan

Memang benar ya kata orang jaman dulu,apapun itu jangan sampai berlebihan. Bahkan dalam hal kasih sayang.

Membaca thread ini saya semakin sadar, bahwa kasih sayang adalah berkah luar biasa yang jika tidak dikontrol dengan benar, justru dapat menjerumuskan. Dan hal ini sudah kejadian tidak hanya satu dua saja di lapangan, bahkan sepupu saya sendiri pun kurang lebih sama dengan orang yang diceritakan dalam postingan tersebut.

Intinya, dia terlalu dimanja sejak kecil, apapun yang diminta pasti dikabulkan oleh orang tuanya, tidak pernah dimarahi ataupun dilarang, sekecil apapun pencapaiannya selalu dibanggakan setinggi langit, dan tidak pernah diajari kerja keras. Sama seperti kasus diatas, lulus lah dia jadi seorang sarjana.

Bekerja? Tidak mau. Sekalinya bekerja juga tidak bertahan lama. 2 sampai 3 bulan, bosan lah dia. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak bekerja sama sekali.

Hari-harinya dipenuhi dengan main game, jalan-jalan, ngopi, dan lain sebagainya. Gayanya ala pak bos, bisanya hanya menyuruh saja. Bacaannya? Berat bos. Buku-buku mahal tentang pengembangan diri, investasi, dan lain sebagainya. Buku orang sukseslah.

Tapi pengaplikasian di dunia nyata? NOL BESAR.

Orang tuanya pun juga sama saja. Diingatkan berkali-kali tidak mendengar, menganggap diri mereka yang paling benar dalam mendidik si anak. Semua karena terlena punya uang paling banyak.

Gongnya, 10, 20 tahun berlalu sejak sepupu saya ini lulus kuliah, dia tetap menganggur. Hobi yang produktif tidak ada, skill tidak punya, pengalaman kerja nihil, semangat untuk merubah diri sendiri sudah dua dekade lebih tidak diasah. Si sepupu saya pusing, orang tuanya jauh lebih pusing.

Bukan karena kehabisan uang, tapi karena bingung bagaimana merubah karakter anaknya.

Karena terbiasa hidup mudah, karakternya jadi keras kepala, suka menuntut, apatis dan tidak peka terhadap kesulitan orang lain, dan pemarah ketika keinginannya tidak dipenuhi. Bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Anak yang dulu mereka bangga-banggakan, justru jadi sumber malu bagi orang tuanya.

Ini hanya jadi pembelajaran buat kita semua, terutama bagi orang tua muda. Bahwa rasa sayang sebesar apapun yang kita miliki pada anak kita, harus ada batasnya.

Sayang itu tidak sama dengan memanjakan, tapi mendidik dengan tegas dan penuh kasih agar anak tau apa itu hak dan kewajiban.

Sumber : klik

Pandawara : Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Kesuksesan

Pandawara Group – nama yang kini tidak asing lagi bagi banyak dari kita. Sebuah grup berisikan lima pemuda yang memiliki tekad kuat untuk menyelamatkan lingkungan mereka dari ancaman sampah.

Berawal dari keresahan terhadap sungai dan lingkungan sekitar yang tercemar, kelima pemuda ini memutuskan untuk tidak hanya mengeluh, tetapi mengambil tindakan nyata. Mereka mulai membersihkan sungai-sungai, selokan, hingga pantai yang dipenuhi sampah. Berbekal tekad, peralatan sederhana, dan semangat gotong royong, aksi mereka perlahan menjadi sorotan publik.

Seiring aksi mereka berlanjut, peran media sosial menjadi pendorong utama dalam memperluas dampaknya. Lewat video-video dokumentasi yang mereka unggah, masyarakat luas tak hanya melihat betapa parahnya pencemaran yang terjadi, tapi juga terinspirasi untuk turut berkontribusi. Mereka membuktikan bahwa anak muda mampu menjadi agen perubahan, bahkan tanpa dukungan besar dari institusi.

Yang membuat Pandawara istimewa bukan hanya aksi bersih-bersihnya, tetapi juga keberanian mereka untuk menantang kebiasaan buruk masyarakat dan mengajak perubahan dari hal-hal kecil. Dari satu sungai, kini mereka telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, memicu kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Melihat postingan mereka hari ini yang membahas tentang One Day vs Day One, saya ikut bangga terhadap pencapaian yang telah mereka raih. Dari usaha mereka memungut sampah berbekal jas hujan dan sepatu boot pinjaman, perlahan mampu membeli baju pelindung yang proper, hingga akhirnya mampu mendirikan sekolah di daerah terpencil bersama bantuan donasi orang-orang baik lainnya.

Tak ada yang menyangka, kebaikan yang mereka lakukan untuk peduli terhadap sesuatu yang seringkali dianggap remeh masyarakat justru menjadi jalan kesuksesan mereka? Tak ada yang menyangka mereka dapat pergi haji dari hasil mengurusi sampah? Tak ada yang menyangka, berkat sampah mereka dapat membawa berkah ke banyak sekali orang?

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Pandawara Group adalah, hal baik yang dilakukan berdasarkan niatan baik selalu menarik hal-hal baik lainnya. Mungkin porsi ganjaran yang didapatkan tiap orang akan berbeda-beda, tapi saya rasa Tuhan selalu membalas kebaikan manusia selama mereka ikhlas melakukannya.

Untuk Pandawara Group: Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Kalian berlima sangat keren!

Sumber : klik

Sound Horeg : Sudah Diharamkan tapi Masih Menjamur

Fenomena sound horeg belakangan ini menjadi perbincangan yang tak kunjung reda. Meski sudah dilarang di banyak daerah karena dianggap mengganggu, budaya ini justru masih menjamur di berbagai pelosok Indonesia, terutama daerah Jawa timur. Suara bising yang dihasilkan dari speaker berdaya sangat tinggi seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian masyarakat.

Saya sendiri sama sekali tidak menyukai budaya sound horeg ini. Jujur saja, saya heran kenapa masih banyak orang yang justru menikmati suara yang, maaf, begitu cumiakkan telinga. Di tengah maraknya kampanye kesadaran akan kesehatan dan kebisingan, sound horeg terasa seperti antitesis terhadap hal tersebut.

Bukan hanya soal bising.

Sound horeg secara ilmiah juga berisiko merusak kesehatan. Karena menurut WHO paparan kebisingan maksimal yang boleh diterima orang dewasa adalah 85 desibel selama 8 jam. Sedangkan sound horeg memiliki indeks kebisingan di 130 desibel, yang mana sangat berpotensi merusak kemampuan dengar. Tidak hanya berpotensi merusak indra pendengaran, bagi bayi, orang tua, dan orang dengan gangguan jantung, sound horeg sangat membahayakan.

Yang jadi pertanyaan adalah : Mengapa budaya ini tetap digemari?

Menurut saya ada beberapa alasan yang mungkin.

Pertama, sound horeg sering dianggap sebagai simbol kemeriahan. Bagi sebagian orang, acara tidak dianggap ‘sukses’jika tidak disertai dengan suasana yang ramai dan meriah, salah satunya dengan dentuman sound horeg. Kedua, hadirnya sound horeg juga bisa menjadi ajang unjuk gengsi. Semakin besar dan keras suaranya, semakin dianggap ‘wah’ bagi beberapa pihak. Ketiga, faktor ekonomi juga tak bisa diabaikan. Banyak penyedia jasa sound system melihat peluang dari tren ini, dan permintaan yang terus tinggi membuatnya sulit diberantas sepenuhnya.

Sumber : klik

Gulali Kayu, Rasa Jadul dengan Balutan Manis dan Aroma Karamel Nikmat

Pernah dengar yang namanya permen gulali kayu?

Permen jadul ini sudah sangat jarang saya temui di daerah saya, padahal dulu banyak sekali di jual di pasar-pasar. Setelah sekian lama tidak makan permen ini lagi, saya berkesempatan mencicipi kembali cita-rasanya yang unik saat berkunjung ke rumah kawan.

Jajanan manis asal Jawa Timur ini memiliki tampilan yang unik. Dengan bentuk panjang dan bertekstur seperti kayu kering, gulali ini juga memiliki warna yang tidak biasa, yaitu coklat keemasan.

Sebagai makanan yang masuk kedalam kategori “permen” tentunya rasa yang paling dominan adalah manis. Namun yang membuat permen ini nagih adalah adanya aroma karamel yang begitu kuat dan after taste sedikit pahit yang membuatnya tidak membosankan untuk dimakan. Meskipun disebut gulalu, tekstur gulali kayu cenderung keras (bukan lembek seperti gulali kebanyakan) tapi renyah, sehingga sangat mudah digigit.

Buat yang penasaran dengan rasanya, gulali kayu sudah banyak dijual online, salah satunya di toko oren. Kalau di daerah kalian permen ini disebut apa?

Sumber : klik