Kejadian yg Bikin Kita Malu Sendiri Waktu Di SPBU, Kamu PERNAH?

Semua orang tidak asing dengan yang namanya stasiun pengisian bensin umum (spbu), bensin habis ya umumnya pergi ke spbu kan? Tapi meskipun kita sudah tidak asing dan sudah terbiasa terkadang ada hal yang membuat kita seperti baru mengenal spbu.

Beberapa kejadian saya alami sendiri dan beberapa dari pengamatan saya selama berada di spbu. Adakah kalian pernah mengalaminya sendiri, teman atau melihat orang lain?

Setahun setengah lalu jujur saja saya belum begitu mengenal spbu self service, otomatis saya tidak memahami prosedur dan cara mengisi bensin dikendaraan sendiri.

Suatu ketika dengan pedenya saya ikut mengantri, awalnya dibelakang saya tidak ada motor lain lalu beberapa menit kemudian dibelakang barisan mulai terisi panjang ada sekitar 7 motor. Dan ketika mendekati giliran, saya baru tersadar kalau spbu itu menerapkan self service, astaga saya seperti terjebak dalam kepolosan saya.

Mau bilang ‘nggak bisa’ tapi malu sangat sama petugasnya, mau keluar dari barisan tapi sumpah malu bener karena seolah semua mata yang antri dibelakang saya menatap tajam. Akhirnya dengan sok pe-denya saya berusaha tenang dan sok yakin, padahal tangan ini gemetar ketika baru pertamakali memegang tuas/noozlebensin lalu menuangkannya ke dalam tangki.

Bensin keluar seiprit demi seiprit, kadang kenceng.. kadang seperti mogok..pokoknya udah mirip orang lagi sakit anyang-anyangan, bikin sebel. Belum habis kegelisahan saya tiba-tiba suara dispenser berhenti dan bensin yang keluar dari tuas/noozle ikut berhenti, saya jadi bingung karena belum hilang rasa grogi saya tiba-tiba bensin sudah stop yang ternyata sudah selesai. Cepet banget, padahal kalau diisiin petugas butuh waktu beberapa menit gituu?

Bahkan ketika menaruh tuas/noozle pada lubang dispenser saya masih salah beberapa kali, nggak nyangka kalau ternyata berat pula, akhirnya dibantu petugas pomnya. Begitu kelar saya langsung tancep gas buru-buru keluar agar orang lain tidak sadar dengan ‘kemaluan’ saya. Muehehe…

Kasus kedua, yang cukup memalukan adalah ketika yakin isi bensin, “Mas pertalite 20 ribu yak,” kata saya, dengan sigap mas nya langsung bekerja sesuai Sop nya, kelar lalu ditagih bayar. “Astaga, saya lupa bawa dompet, uang receh dikantong ternyata kurang!” Antrian dibelakang saya seperti sudah tidak sabar. “Tinggal aja dulu motornya, ambil uangnya dulu” kata petugasnya. Motor pun saya parkir dipinggir dan saya langsung balik badan jalan kaki cepat-cepat serasa tidak ingin dilihat orang banyak.

Kasus ketiga, rebutan barisan antrian. Biasa kalau sudah ketemu yang punya jalan raya, kaum emak-emak.. kita musti waspada agar tidak berurusan dengannya. Waktu itu saya kalau tidak salah ada dibarisan ke empat dari depan, tiba-tiba ada seorang emak nyerobot 1 barisan didepan saya.

“Bu, ikut antri dibelakang dong, masa main serobot begini” kata didepan saya. “Saya buru-buru mas,” kata si emak ketus. Sampai tiba giliran dia tiba-tiba si emak kebingungan, “Loh, ini bukan pertalite, ya?” kata si emak ini, rupanya dia salah barisan, udah maunya selak antrian orang eh.. nggak mampu beli Pertamax pula.

Saya perhatikan dengan ekor mata ini si emak terdiam lalu sambil menunduk dia menuntun motornya ke barisan pertalite yang paling belakang. Ada-ada saja, ya.

Sumber : klik

Kesasar Di Tengah Laut Atau Di Tengah Gurun, Kamu Pilih Mana?

Selama hidupmu apa pernah kesasar karena tidak tahu atau tidak yakin dengan jalan yang dipilih? Kalau bawa kendaraan cara gampangnya ya tinggal cari puteran, hehe. Tapi kalau dihadapkan oleh dua pilihan kesasar ditengah laut atau gurun pasir kamu pilih yang mana?

Sehabis menonton sebuah chanel yutup tentang pengalaman Aldi sang nelayan Indonesia yang kesasar sampai ke Jepang tentu menjadi pengalaman hidup yang liar biasa. Tidak ada pilihan selain berusaha untuk bisa bertahan hidup, bak seekor semut ditengah lautan terombang ambing sepanjang waktu tidak tentu arah serta diselimuti oleh gelapnya malam ditengah lautan.

Berdasarkan kisah yang dialami Aldi si nelayan ini sepertinya terombang ambing di tengah laut lebih aman dan ada kemungkinan bisa diselamatkan oleh kapal yang lewat ketimbang terdampar di tengah gurun.

Pahitnya, kalau belum mendapat pertolongan maka perahu yg kehabisan bensin masih bisa berguna di tengah laut, di perahu kita bisa berteduh dan bisa sambil memancing dan makan apa adanya sampai bantuan datang. Syukur-syukur ombak laut bisa membawanya ketepian pulau berpenghuni sebelum bantuan datang.

Jika persediaan air habis seperti yang Aldi katakan dia sengaja menaruh apapun untuk dijadikan wadah menampung air hujan, jika persediaan air habis dia sengaja membasahkan air laut ke pakaian atau bahan apapun lalu agar kadar garamnya berkurang dia memeras pakaian tersebut.

Nah, sekarang semisal kamu tersasar ditengah gurun pasir bersama dengan kendaraanmu tetap ada kesempatan kendaraan terus melaju meski terbilang sulit melewati medan berpasir dan lama kelamaan bensin akan cepat habis. Ketika bensin habis maka kendaraanmu tidak berguna lagi, diam ditempat dan dalam hitungan detik langsung menjadi barang rongsokan.

Mungkin kamu bisa berteduh didalam kendaraanmu tapi tidak akan bertahan lama, suhu panas dan malam yang amat dingin membuatmu semakin kesulitan untuk berpindah ketempat lain. Bertahan dikendaraan pasti kehabisan makanan dan air, jika nekat jalan kaki digurun kamu tidak bisa berjalan cepat menuju desa terdekat atau jalan umum, kamu tidak akan menemukan kendaraan lewat dan hewan berbisa siap mematukmu atau Hering si burung bangkai diketinggian panas yang terik pun dengan sabar menanti ajalmu tiba.

Secara, jika disimpulkan pilihan untuk bisa bertahan hidup dan selamat adalah kesasar ditengah laut (meski siapapun termasuk saya pastinya tidak ingin memilih keduanya) daripada ditengah gurun tentu pengetahuan cara bertahan hidup (survival) dan takdir tetaplah menentukan.

Sumber : klik

Kamu Pilih Motor Velg Palang Atau Jari Jari?

Dulu sebelum velg palang sepopuler sekarang ini, produsen kendaraan roda dua selalu menghadirkan velg jari-jari (spoke wheel)sebagai penunjang utama kendaraan agar bisa bergerak mulus. Mengapa disebut velg jari-jari karena bentuknya seperti kumpulan jari yang mengelilingi lingkaran dalam roda.

Menurut pengamatan saya, soal kekuatan tidak perlu diragukan lagi karena ‘batang’ jari-jari menyangga merata disekeliling velg roda sehingga lebih awet dan kelenturan jari-jari yang terbuat dari bahan besi baja campuran ini jelas lebih nyaman dibandingkan velg palang (casting wheel) saat ini.

Namun seiring perkembangan zaman velg jari-jari terutama dalam menunjang penampilan kendaraan sedikit tertinggal atau berkesan mulai kuno dibandingkan velg palang yang lebih modern dan mudah dalam hal perawatannya.

Bayangkan saja, untuk merawat velg jari-jari agar tetap kinclong kita harus memoles satu persatu batang jari-jarinya, semakin banyak tiang jari-jari tadi semakin lama kita membersihkannya, jika jarang dirawat rawan berkarat. Belum lagi soal perbaikan penyetelan perbatang jari-jari yang mungkin ada yang kendur. Butuh perawatan ekstra.

Bandingkan dengan velg palang yang jumlah batangnya tebal dan lebih sedikit dari velg jari-jari tentu akan lebih mudah dalam hal perawatan keseharian. Kelebihan lain dari velg palang adalah ketika bongkar pasang saat menambal ban tubless lebih mudah tapi soal kekuatan juga tidak diragukan lagi (kecuali velg palang murahan rawan retak dan patah), hanya minusnya sedikit rigid.

Menggunakan velg palang memang menambah tampilan kendaraan terlihat lebih kokoh dan enak dipandang, itulah kenapa meski harganya lebih mahal kini orang urban lebih memilih motor dengan velg model palang daripada velg jari-jari. Jalan-jalan perkotaan dan desa mulai banyak yang rata membuat velg palang semakin dicari.

Tapi bukan berarti produsen motor stop memproduksi velg jari-jari, tapi sekarang lebih fokus atau spesifik menempatkan velg jari-jari pada jenis kendaraan tertentu, mulai dari bebek sampai motor trail dan supermoto atau petualang yang memang lebih tepat di habitatnya melintas jalan rusak dan tidak rata.

Bobot velg jari-jari yang lebih ringan (dibandingkan velg palang murahan), lebih fleksible, lebih irit, lebih gesit, bisa meredam getaran, dan lebih tahan lama membuat velg jari-jari sangat cocok disegala medan, hanya modelnya sekarang terlihat kurang modern bila dipasangkan di motor-motor keluaran terbaru.

Motor perkotaan sekarang memang banyak didominasi velg palang karena banyak jalan sudah mulus dan rata dibanding 20 tahun lalu, tapi velg jari-jari masih mereka gunakan demi mengejar top speed seperti pebalap liar jalanan sengaja mengganti velg palangnya menjadi velg jari-jari.

Satu hal yang jarang orang sadari juga adalah harga motor dengan velg jari-jari sedikit lebih murah dibanding velg palang, tapi memang dalam hal perawatan velg jari-jari sedikit merepotkan tapi terbayar dalam hal handling, kelincahan dan kenyamanan saat berkendara. Setuju?

Sumber : klik

Pernah Punya Impian Tak Kesampaian, Tapi Setelah Dewasa Hilang Atau Biasa Saja?

Namanya juga waktu bocil aka anak kecil adalah usianya bermain dan berkhayal. Kesukaan dan kesenangan terhadap sesuatu misalkan mainan robotan atau boneka adalah hal yang lumrah terjadi. Yang kasihan adalah kalau semisal punya keinginan tapi sampai dewasa belum juga terbeli karena keuangan orang tua terbatas.

Sebagai anak lelaki, kecilnya saya dulu sebutan anak orang kaya kalau mereka sudah punya mainan mobil yang ada remotenya, pesawat terbang pakai remote, sepatu roda, game watch, kaset video player (VHS). Ya, ampuun.. semua mainan itu sampai detik ini belum juga kesampaian saya miliki, sedih sebenernya tapi gimana lagi karena orangtua waktu itu tidak mampu membelikannya.

Tapi dari sekian mainan kesukaan yang saya sebutkan tadi rupanya saya punya kesukaan yang mungkin terbilang aneh, out of the box? Ya, saya begitu senang dan bahagia kalau sudah melihat rel kereta api! Apalagi kedua rel itu terlihat mengkilap dan terhubung antar rel lainnya. Entah kenapa ada rasa senang yang luar biasa setiap kali melihatnya.

Dari sekian impian dan keinginan yang paling tidak terwujud adalah memiliki rel kereta api untuk diboyong kerumah! Haha, lah wong mainan remote aja tidak terbeli apalagi harus memiliki sepasang rel kereta api, bagaimana cara orangtua saya membeli dan membawanya?

Makanya ketika saya berkesempatan mudik naik kereta waktu itu saya selalu meminta ayah saya untuk menemani menginjak-injak rel kereta api, berjalan mondar-mandir dengan langkah kecil dan sebentar kemudian mengelus-elusnya. Rasanya ada kepuasan tersendiri. Hm.

Namanya anak, tetaplah seorang anak yang kalau sudah punya keinginan biasanya merengek dan memaksa orangtua untuk membelikannya. Bisa ngambek berhari-hari. Tapi sekali lagi itu hanyalah impian saya kala itu, orangtua tetap tak mampu membelikannya.

Hingga suatu hari bapak saya sepulang kerja membawa satu box mainan berisi lengkap kereta api beserta rel dan jembatannya. “Selamat ulang tahun, ya,” kata ayah saya. Wah, saya senangnya bukan main tapi tetap belum terpuaskan kalau belum melihat kilauan rel baja yang mulus nan halus itu.

Satu lagi saya mau cerita impian mainan kesayangan yang benar-benar terwujud waktu itu adalah punya boneka E.T. (the Extra-Terrestrial)yang fenomenal kala itu. Saya berhasil memilikinya waktu ada pameran di Jakarta Fair, seharga Rp 8000 (awal tahun 90an) barang asli import Amerika. Ukurannya yang kecil, selesai sekolah kemana-mana selalu saya bawa, terlebih jika malam tiba biasanya saya masukan kedalam kaos sambil saya tekan tombol ON maka terlihat dari luar jari E.T menyala ‘blinkin’ dibalik kaos bergambar Lion Man, Megaloman atau Voltus V.

Saya kemudian berjalan sepanjang jalan kampung depan rumah mondar mandir memamerkan diri. Zaman itu termasuk hal yang keren! Semua anak memandang dan penasaran. Sayangnya boneka E.T ini kemudian hilang setelah saya pindahan rumah.

Nah, itulah sedikit curhatan saya sewaktu masih kecil dan sangat berkesan hingga detik ini. Sebenarnya untuk membeli mainan impian yang belum terwujud masa itu bisa saja saya beli sekarang tapi sepertinya saya tidak lagi membutuhkannya, cukup disimpan didalam ingatan agar lebih berkesan. Kamu bagaimana?

Sumber : klik

Ngojol Katanya Mulai Sepi, Ternyata Banyak yang Alih Profesi Jadi Ini!

Masa kejayaan driver ojek online dalam usaha mengais rezeki benarkah sudah sampai titik nadir saat ini? Saya coba perhatikan di beberapa sudut dan lokasi dimana mereka berkumpul, yang biasanya selalu ramai dan guyub memang kini berubah sepi drastis, bahkan beberapa tempat tidak ditemukan samasekali, kemana mereka?

Bekerja menjadi seorang driver ojek online (ojol) memang sempat menjadi pekerjaan favorit dan menjanjikan pada awal tahun 2010 hingga 2019-an, seringkali terlihat ratusan pelamar antri sampai mengular hanya untuk mendaftar sebagai ojol. Komunitasnya pun tumbuh secara organik dan berada di hampir setiap daerah operasionalnya.

Begitu besarnya minat mereka menjadi seorang driver ojek online sangatlah beralasan karena memang memberikan pemasukan yang termasuk besar (bahkan bisa mengalahkan gaji seorang manajer), jam kerja yang fleksibel membuat orang akhirnya berbondong-bondong melamar menjadi ‘tukang ojek’ bahkan ada yang berani menjadikannya sebagai pekerjaan utama mereka.

Seperti kata teman saya Rudi (nama samaran) bercerita sewaktu masih “gacor” atau ramainya orderan masuk dan perusahaan masih ‘bakar uang’ (iklan, promo, diskon, bonus, insentif dan cashback) sehari Rudi minimal dapat pemasukan bersih sekitar Rp 400-500.000, bahkan temannya ada yang sehari bisa lebih darinya. Tapi sekarang ‘anyep’, untuk dapat Rp 150.000 saja kadang harus bela-belain keluar pagi lanjut ngalong, terkadang sehari cuma dapat Rp 50.000!

Terang saja, dengan melihat tajamnya penurunan pemasukan para driver ojek online ini akhirnya membuat mereka kembali memutar otak demi bisa bertahan hidup, bahkan mirisnya karena sepinya orderan ada yang sampai tidak mampu membayar kontrakan lalu diusir atau motor sebagai satu-satunya alat untuk mencari nafkah di tarik leasing dengan cara paksa.

Rudi menjawab pertanyaan yang saya ajukan, “Mereka yang nggak ngojek sekarang kerjanya apaan, bang Rud?”. “Sebenarnya sih mereka masih ada, lebih tepatnya mereka lagi “hibernasi” sampai menunggu waktu itu datang lagi, atau nongol di titik dan jam tertentu aja”kata Rudi diplomatis.

Jawaban Rudi dibawah ini mungkin mewakili beberapa teman ojol yang bernasib sama, juga mungkin masih ada pekerjaan yang lain yang belum saya ketahui.

Pertama, ada yang sekarang merangkap menjadi kurir perusahaan marketplace di Lazada, Shopee, atau Tokopedia atau bekerja di perusahaan logistik seperti J&T Express, Tiki dan lainya.

Kedua, bagi driver mobil ada yang alih profesi menjadi supir pribadi, gabung dengan rental mobil, sedang pemotor diam dirumah untuk menghemat bensin dan pengeluaran lainnya.

Ketiga, bagi yang masih pegang uang lebih biasanya mereka buka usaha kecil seperti warung makan, minuman ringan, toko kelontong, katering, laundry, atau petugas kebersihan kelurahan.

Ngojol (Katanya) Mulai Sepi, Ternyata Banyak yang Alih Profesi Jadi Ini, Gan!

Keempat, menurut Rudi temannya ada juga yang menjadi pemandu wisata karena selama mengojek mereka tahu area kawasan wisata dan sekitarnya, khususnya mereka yang tinggal di daerah.

Kembali ke pekerjaan lama dikantoran seperti jadi OB, cleaning service, sekuriti, dll), jasa service elektronik, bengkel, parkir liar sampai pak ogah.

Para ojol adalah gambaran manusia yang pantang menyerah meski dinamika kehidupan terus berputar dan bergerak cepat tidak memandang si miskin dan si kaya. Kerasnya hidup di jalan membuat mereka lebih tegar, lebih dewasa dan pantang menyerah. Salut!

Sumber : 1, 2, 3