Keluar Showroom Kendaraan Langsung Di Modif ‘Bikin Apes’, Mitos Ataukah Fakta?

Berkembang mitos di masyarakat kalau beli kendaraan motor atau mobil dengan cara kredit nggak boleh di modif dulu karena “pamali”. Tapi bertolak belakang bagi beberapa orang termasuk saya, pastinya udah gatel duluan mau nambahin aksesoris, upgrade ini dan itu atau modif performa sekalian. Well, nyatanya sampai sekarang aman-aman saja asalkan kita percayakan ke orang yang benar-benar ahli dibidangnya.

Tapi maksud saya disini bukan itu. Ketika kendaraan dibeli dengan status kredit sejatinya belum 100% milik kita, jadi kalau ada masalah ditengah jalan, pahitnya kendaraan ditarik pihak leasing maka pemilik kendaraan bisa rugi 4x: pertama kendaraan tidak lagi ditangan, kedua sudah habis biaya dan waktu buat nambah aksesori dan upgrade performa, bisa menghilangkan garansi dan asuransi, harga jual langsung jatuh.

Secara legal, motor atau mobil yang kita kredit infonya masih jadi milik pihak leasing atau bank sampai semua cicilan lunas apalagi kalau dibeli secara Syariah. Jadi, kalau kita langsung modif tanpa pikir panjang, itu bisa bikin masalah serius terutama bila dimodif bagian kelistrikkan atau performa secara serius, dianggap sudah melanggar perjanjian kredit. Risikonya ya bisa macem-macem, mulai dari denda sampe pihak leasing atau bank nahan BPKB kita lebih lama.

Soal garansi pabrik juga jadi pertanyaan. Biasanya, kalau kendaraan masih dalam masa garansi, segala bentuk modifikasi bisa bikin garansi itu hilang. Contoh sederhana, kamu ganti knalpot standar jadi knalpot racing buat suara lebih gahar. Mungkin kedengarannya keren, tapi kalau ada masalah sama mesin, pabrik atau dealer bisa nolak klaim garansi karena kamu dianggap sudah merusak sistem yang ada. Padahal, kalau dibiarkan standar, segala masalah teknis yang terjadi masih bisa ditanggung tanpa biaya tambahan.

Di sisi lain, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, modifikasi juga bisa bikin asuransi nggak mau nanggung kalau ada kerusakan atau kecelakaan. Kebanyakan polis asuransi mencantumkan kendaraan sesuai spesifikasi awalnya. Jadi, begitu kamu modif, misalnya ganti warna bodi atau tambah aksesoris, dan enggak lapor ke perusahaan asuransi, mereka bisa punya alasan buat nolak klaimmu. Itu artinya, kalau ada kecelakaan atau insiden, kamu harus tanggung biaya perbaikan sendiri yang bisa jadi lumayan mahal.

Banyak orang mungkin mikir kalau modif itu bisa bikin kendaraan lebih keren dan bernilai lebih tinggi, tapi faktanya enggak selalu begitu. Pembeli barang sekon rata-rata lebih suka kendaraan yang masih standar dari pabrik, karena mereka merasa lebih yakin sama kualitas dan kondisi aslinya. Kalau kendaraan udah dirombak sana-sini, bisa jadi malah dianggap ribet, dianggap menutupi kekurangan, atau rawan rusak, dan akhirnya harga jualnya justru turun.

Kalau dipikir-pikir lagi, modifikasi memang punya daya tarik tersendiri. Tapi, menurut saya, mending sabar sedikit sampai cicilan lunas, baru deh bebas modif sesuka hati. Saat kredit sudah lunas, kendaraan otomstis resmi jadi milik kita sepenuhnya, enggak ada lagi beban leasing atau aturan asuransi yang rumit. Kita juga lebih tenang kalau ada masalah teknis karena semuanya di bawah kendali kita.

Lagipula, modifikasi juga butuh biaya tambahan, yang mungkin bisa dialihkan dulu buat bayar cicilan atau keperluan lain yang lebih penting. Masih mau nekat, resiko ditanggung sendiri, boss. Jadi apakah ini Mitos ataukah Fakta, menurut saya ini fakta.

Sumber : klik

Rahasia Memperbaiki Suara Headset Mati Sebelah, 5 Menit Teratasi Tanpa Bongkar!

Pernah nggak sih kalian ngalamin headset tiba-tiba mati sebelah? Saya fikir awalnya headset kesayangan ini udah tamat, nggak bisa dipake lagi. Sempat coba lihat tutorial di YouTube, tapi kok kayaknya ribet banget, ya? Mulai dari bongkar, solder, sampai ganti kabel. Ah, pusing. Tapi di tengah frustrasi, tiba-tiba saya kepikiran cara yang lebih simpel, dan ternyata berhasil!

Jadi, pas headset suaranya mati sebelah, saya iseng coba cek dan raba sepanjang kabelnya, sebetulnya ini nggak sengaja. Triknya gampang: Cuma nekuk-nekuk sepanjang kabel pelan-pelan sambil dipake dengerin lagu kesayangan. Kalau tiba-tiba suara muncul lagi berarti ada sisi kabel yang yang putus di dalamnya. Nah, setelah nemu bagian yang bermasalah, tinggal potong dan sambung lagi. Nggak perlu ribet bongkar housing headset atau nyari-nyari alat kayak di tutorial-tutorial, kan?

Simpelnya gini, Gan. Kadang-kadang, kita mikir masalah teknis itu harus diselesaikan dengan cara yang teknis juga. Tapi kenyataannya, sering kali solusinya jauh lebih sederhana dari yang kita bayangin. Setelah saya nemuin cara ini, saya merasa kalau ngeliat tutorial di internet tuh bikin kita lupa sama prinsip dasar troubleshooting: Coba cek dulu dari yang paling gampang! Daripada langsung repot-repot, kenapa nggak coba cara yang praktis dan cepet dulu, ya kan?

Sebetulnya saya punya headset yang wireless juga, tapi headset yang sempat rusak ini adalah sebuah pemberian dari orang yang sangat spesial maka sempat kefikiran banget kalau sampai rusak nggak bisa dibenerin lagi bikin sedih. Kalau kata orang Jerman bilang, “gawe gelo lan man-eman” Rahasia Memperbaiki Suara Headset Mati Sebelah, 5 Menit Teratasi Tanpa Bongkar!

Jadi jika kamu sedang mengalami hal yang sama seperti yang saya alami jangan langsung panik atau buru-buru beli yang baru. Mulai sekarang cek dulu sepanjang kabelnya, tekuk-tekuk perlahan sambil dengerin lagu kesayangan siapa tau masalahnya sepele seperti saya, bisa hemat waktu dan tenaga.. Kalau berhasil, ya syukur banget, dompet di jamin aman. Hehe. Kalau nggak, ya baru deh coba cara lain yang lebih ribet lihat di YouTube atau lem biru.

Sumber : klik

Alasan Saya Kenapa Masih Pelihara Motor Bebek, Kalian Gimana?

Motor bebek, siapa yang nggak kenal? Dulu, waktu kecil, kita pasti sering lihat bapak-bapak bawa motor ini buat kerja, nganter anak sekolah, atau malah buat jalan-jalan santai. Sekarang, di jalanan, motor bebek udah kalah saing sama matic yang lebih praktis. Tapi, asal tahu saja motor bebek tuh masih punya daya tarik sendiri apalagi buat mereka yang masih mikirin soal irit bensin atau pengen nostalgia masa lalu?

Saya sendiri, salah satu pemilik motor bebek sejuta umat, Supra X 125 alias si batok getar masih merawatnya sampai sekarang. Semsasi naik motor bebek kelak jadi hal yang unik yaitu dari cara ngegas sampai ngoper gigi, semua serba semi manual, bikin sensasi berkendara lebih dapet.

Jadi, ketika banyak orang mulai beralih ke motor matic atau malah motor listrik, saya masih percaya, motor bebek itu punya tempat spesial di hati para penggemarnya.

Salah satu hal yang bikin motor bebek tetap dipilih itu soal iritnya. Serius, dicoba jalan jauh ke luar kota pun, nggak perlu takut kantong bolong karena bensin atau mencari sparepartnya. Mesin motor bebek tuh emang dirancang lebih sederhana dan minim perawatan, jadi nggak perlu narik gas dalam-dalam buat dapet kecepatan. Apalagi kalo buat keliling-keliling kota, udah pasti hemat. Beda banget sama motor matic yang kadang lebih boros, terutama kalo dipake buat macet-macetan. Nah, buat yang perhitungan soal pengeluaran, motor bebek jelas menang di sini.

Selain itu, perawatan motor bebek juga gampang banget. Part-nya lebih simpel, dan kalau ada apa-apa, nggak perlu bengkel canggih buat benerinnya. Beda kan sama matic apalagi listrik yang sistemnya lebih kompleks? Saya punya temen yang tiap beberapa bulan sekali harus ke bengkel buat ngecek matic-nya, soalnya bagian CVT sering bermasalah. Di motor bebek? Nggak perlu repot! Cukup rajin ganti oli sama cek mesin secara rutin, ini bebek bisa awet bertahun-tahun. Itulah alasan kenapa banyak orang di daerah masih pakai motor bebek, karena nggak ribet soal perawatan!

Kalau bicara keiritan ada motor bebek seperti Honda Supra X 125 (sekitar 60 km/liter), Yamaha Jupiter Z1 (sekitar 50-55 km/liter), Suzuki Smash FI (sekitar 65 km/liter). Gokil nggak tuh!

Terus, kalau ngomongin soal tahan banting, motor bebek emang juaranya. Jalan rusak, berlubang, atau bahkan medan off-road ringan? Motor bebek masih bisa diandalkan. Saya inget banget waktu touring ke daerah Sentul Selatan bareng temen-temen, yang bawa matic kadang harus turun dulu karena motornya nggak kuat nanjak atau melewati jalan berlubang. Sedangkan motor bebek? Gas terus! Suspensi sama rangka motor bebek itu lebih kuat dan kokoh, jadi nggak gampang oleng meskipun jalanannya nggak rata. Ini cocok banget buat yang suka jalan-jalan ke tempat-tempat yang masih asri dan nggak selalu beraspal mulus.

Tapi, bukan berarti motor bebek nggak punya kelemahan. Di zaman serba cepat kayak sekarang, orang lebih milih yang praktis. Matic jelas unggul di sini, tinggal gas, nggak usah pusing oper gigi. Matic juga lebih nyaman buat yang sering macet-macetan di kota besar. Jadi wajar aja kalau motor bebek makin sedikit populasinya, terutama di kalangan anak muda yang pengen sesuatu yang lebih simpel. Tapi ya balik lagi, soal preferensi, kan?

Buat saya pribadi, motor bebek itu nostalgia. Meskipun sekarang saya lebih sering naik motor matic sebagai motor kedua, tapi kenangan naik motor bebek bareng temen-temen tetap nggak bisa tergantikan. Ada sensasi khusus saat kita harus ngoper gigi sendiri, ngatur ritme kecepatan, dan ngerasain mesin motor lebih langsung. Matic emang menang praktis, tapi soal sensasi berkendara, motor bebek punya keunikan tersendiri yang nggak bisa dilupain.

Sumber : klik

Camilan Lokal Terbaik Sambil Ngopi, Kamu Suka yg Mana?

Berbicara mana lebih dulu di kenal, teh memiliki sejarah penggunaan dan popularitas lebih awal (diketahui telah dikonsumsi sekitar 2737 SM di Tiongkok) sedangkan kopi baru dikenal luas pada abad ke-9 di wilayah Ethiopia. Keduanya pun memiliki penggemar tersendiri dari sekedar suka sampai sangat fanatik..

Berbicara pasangannya minum kopi dan minum teh yang cocok adakalanya keduanya memiliki persamaan. Tapi demi menyesuaikan judul dan isi thread ini maka saya coba masukkan beberapa makanan atau camilan pasangan yang populer saat minum kopi saja. Jadi mana pasangan minum kopi paling favoritmu di bawah ini, gan?

Beberapa pasangan kopi yang paling cocok dan enak dari Indonesia menurut pengamatan saya adalah :

Kopi dan Pisang Goreng

Ini sepertinya pasangan paling juara karena paling banyal disukai orang, dari sekedar penikmat sampai penggemar fanatik kopi. Kombinasi klasik yang menyatukan rasa manis dan tekstur renyah pisang goreng dengan kepekatan kopi sepertinya memang sangatlah pas.

Kopi dan Kue Lapis

Kue lapis dengan lapisan rasa manis yang lembut cocok dengan kopi yang kuat. Buat orang lain ini mumgkin memberikan sensasi yang berimbang terutama bagi penikmat kopi hitam atau kopi ampas, sangatlah pas. Tapi buat saya kue lapis manisnya terlalu pekat sehingga saya kurang cocok.

Kopi dan Onde-Onde

Meski saya jarang menemukan atau melihat orang minum kopi dipasangkan dengan onde-onde tapi bagi sebagian orang menyukai onde-onde ketan yang berisi kacang hijau dan balutan wijen yang renyah menjadi pasangan yang enak saat ngopi.

Kopi dan Singkong Goreng

Ini juga termasuk paling banyak penganutnya dari kakek-kakek sampai anak muda menyukainya. Singkong goreng yang gurih dan renyah cocok dengan rasa kopi yang kuat.

Kopi dan Serabi

Paling jarang saya lihat (mungkin karena serabi sudah jarang ditemukan?) Serabi dengan tekstur lembut dan rasa manis-gurihnya sepertinya memang sangat pas dengan kopi.

Kopi dan Klepon

Ini juga paling jarang saya lihat tapi ada juga yang menyukainya. Klepon yang manis dan kenyal dengan gula merah di dalamnya itu menjadikan kombinasi menarik dan pas saat ngopi.

Kopi dan Donut

Diantara semua diatas, yang paling saya suka adalah donut dari tepung yang ditaburi gula halus atau kalau ada donut gula merah saya juga tidak menolak. Keduanya memang beda karakter (lembut dan keras) tapi saya suka ada 2 variasi dan menurut saya ini yang paling pas sebagai pasangan kopi hitam.

Sumber : 1, 2, 3

Service Kendaraan Bagusnya Ikut Bulan Atau Kilometer, Inilah Jawaban Paling Benar!

Pernah nggak sih, kalian bingung soal kapan harus servis kendaraan? Apalagi kalau jarang dipakai, tapi tiba-tiba bengkel udah ngingetin kalau udah waktunya servis. Pertanyaan klasiknya, servis kendaraan itu harus ngikutin kilometer (Km) atau bulan? Nah, dua hal ini memang sering bikin galau, tapi tenang, saya akan jelasin berdasarkan pengalaman dan penjelasan SA bengkel langganan.

Jadi gini, pabrikan mobil biasanya memberikan dua patokan, yaitu jarak tempuh (kilometer) dan waktu (bulan). Tujuannya biar mobil/motor itu tetap dalam kondisi prima, meskipun nggak dipakai tiap hari. Pertanyaannya, apa semua part yang direkomendasikan bengkel wajib diganti kalau kita servis cuma gara-gara udah “jatuh tempo” waktunya?

Dari yang saya pahami, dua-duanya penting karena ada beberapa komponen yang dipengaruhi oleh waktu, sementara yang lain lebih terpengaruh oleh jarak tempuh. Misalnya, kalau udah 6 bulan nggak servis padahal kilometernya masih rendah, mungkin aja oli dan cairan lainnya udah mulai jelek kualitasnya karena teroksidasi. Jadi, ini lebih ke soal keseimbangan aja.

Kalau mobil/motor kalian jarang dipake dan kilometernya masih jauh dari batas servis, bukan berarti semua harus diganti. Kamu bisa tanya ke bengkel, part mana yang benar-benar perlu diganti karena waktu dan mana yang masih bisa dipakai. Biasanya, yang mesti diganti adalah komponen-komponen kayak oli, cairan rem, atau cairan pendingin yang emang bisa rusak meskipun mobil nggak sering dipake. Oke?

Ada lagi beberapa part yang lebih dipengaruhi oleh berjalannya waktu (meski jarak tempuh nggak tinggi) dibanding kilometer. Contohnya: Oli mesin, Cairan rem dan pendingin. Di sisi lain, ada juga komponen yang perlu diganti setelah pemakaian cukup jauh (kilomter tinggi/ kendaraan capek). Contohnya: Kampas rem, Ban.

Jadi saran saya sebelum menyetujui semua rekomendasi bengkel, ada baiknya kalian tanya dulu alasan teknisnya. Jangan ragu atau malu untuk berdiskusi, karena kadang bengkel memang kasih saran lebih buat jaga-jaga, tapi bukan berarti semuanya harus langsung di-gan-ti. Kalian bisa pilih mana yang emang perlu diganti dan mana yang masih bisa ditunda dengan menyesuaikan budget dan keadaan.

Kesimpulannya, servis mobil/motor yang baik itu nggak cuma soal ngikutin kilometer atau bulan aja, tapi juga soal paham kondisi kendaraannya sendiri. Kalau udah ngerti bedanya part yang terpengaruh waktu dan kilometer, kalian bisa lebih bijak dalam nentuin kapan dan apa aja yang perlu diservis. Jadi, jangan asal oke-in semua rekomendasi bengkel terutama di bengkel yang cuma fokus jual part dan target saja.

Sumber : Klik