Kenapa Bau Pewangi Laundry Identik Dan Keras Banget?

Di zaman sekarang pasti kalian udah nggak asing dengan yang namanya usaha laundry rumahan, keberadaannya memang membantu bagi orang sibuk dan malas dengan urusan pakaian kotornya, tinggal antar ke laundry, bayar sesuai harga maka dalam hitungan menit pun pakaian itu sudah bersih kembali dengan kondisi sudah digosok dan wangi..

Tapi setiap kali saya melintasi usaha laundry di dekat rumah, aroma tajam yang menyeruak sering kali membuat hidung saya bereaksi spontan. Ada kesan kuat yang menyeruak—parfum yang begitu pekat dan khas, hingga terkadang bikin kepala sedikit pusing padahal posisi laundry masih berjarak beberapa meter dari posisi saya.

Saking identiknya, seperti sudah jadi rahasia umum, siapa pun bisa langsung tahu misalkan kita sedang dekat dengan seseorang diantrian depan kasir minimarket misalnya, kita bisa langsung bisa menebak pakain orang ini pasti hasil dari pekerjaan laundry, hanya dengan menghirup aromanya saja.

Aroma parfum laundry ini seolah punya identitasnya sendiri. Bukan sekadar wangi segar biasa, tapi wangi yang ‘keras’ dan langsung menempel di ingatan. Maaf, bagi saya ini wangi yang terlalu murahan karena memang dibuat dalam jumlah banyak demi cuan besar.

Banyak orang berpikir, “Kenapa sih parfum laundry baunya bisa sekuat itu?” Nah, mungkin ada beberapa alasan di balik pemilihan aroma yang nyentrik ini. Biasanya, pemilik laundry cenderung memilih parfum dengan wangi kuat agar bisa bertahan lama di pakaian. Tentu saja, harapannya agar konsumen merasa puas karena pakaian mereka masih tercium wangi walau sudah beberapa hari sejak dicuci. Padahal nggak semua orang suka, sayapun yakin mereka yang suka belum sadar dengan hal ini, yang penting ada bau-baunya.. gitu kira kira-kira.

Beberapa laundry juga memilih aroma tertentu yang khas, sebagai ciri khas mereka. Tapi, di sisi lain, wangi kuat seperti ini sering kali tidak cocok dengan selera semua orang. Ada yang merasa, bau itu terlalu menusuk dan malah bikin mual atau pusing, hidung serasa di tonjok-tonjok, haha. Ya, ini menurut perspektif hidung saya yang mungkin juga bisa salah atau beda selera.

Saya tidak sendiri, beberapa teman juga punya keluhan yang sama dan hidung mereka juga merasa terganggu dengan wangi menyengat khas laundry. Menurut saya, meskipun niatnya adalah memberikan kesan wangi dan bersih, aroma parfum laundry yang berlebihan ini bisa menjadi pisau bermata dua. Bagi yang suka, tentu senang, tapi bagi yang sensitif, itu bisa menjadi hal yang cukup mengganggu.

Entah bagaimana, saya merasa ada sedikit ironi di sini. Wangi yang seharusnya memberikan kesan bersih dan segar, justru bisa membuat orang merasa tidak nyaman. Mungkin sudah saatnya beberapa laundry mempertimbangkan variasi aroma yang lebih lembut. Toh, tujuan akhirnya adalah membuat pelanggan merasa nyaman dan puas, kan?

Sumber : klik

Inilah 2 Motor Bebek Incaran Kolektor, Saat Motor Listrik Kelak Merajai Indonesia

Buat anak generasi 90-2000 an pasti tahu, motor bebek masa itu menjadi penguasa dan rajanya jalanan. Tidak bedanya seperti motor matic saat ini, setiap kali keluar rumah, pasti ketemu motor kayak Honda Astrea atau Yamaha RX-King lalu-lalang. Tapi sekarang, tren mulai berubah, motor matic dan listrik perlahan tapi pasti mulai ambil alih jalanan Indonesia. Keren sih, tapi di balik semua itu, ada satu hal yang nggak bisa dilupakan di motor bebek klasik yang dulu berjaya..

Saya sangat yakin, kalau motor listrik suatu saat udah jadi standar pemakaian untuk keseharian, motor bebek lama bakal jadi barang antik yang diburu kolektor. Kenapa bisa begitu? Karena motor-motor bebek ini bukan cuma soal mesin atau performa, tapi lebih ke nilai historis dan nostalgia yang dibawanya. Ibarat kata, motor-motor ini kayak waktu yang dibekukan; setiap getaran komponen dan suara mesinnya, bau dan suara yang keluar dari knalpot asli, bentuk dan garis bodinya, instrumen panelnya, bentuk lampu dan jenis lampunya, penggerak rantainya, lubang tangkinya bensinya, bahkan bau-baunya bisa ngingetin orang ke masa lalu.

Nah, menurut saya ada dua motor bebek yang snagat pantas dan bakal jadi incaran kolektor kalau motor listrik udah merajai jalanan: Honda Astrea Grand dan Yamaha F1ZR. Dibawah ini saya jelaskan alasannya.

Pertama, Honda Astrea Grand. Yes, siapa sih yang nggak kenal sama motor bebek legendaris ini? Motor ini bukan cuma jadi simbol kepraktisan, tapi juga dikenal sebagai motor yang super irit bahan bakar. Di era 90-an sampai awal 2000-an, motor ini jadi andalan banyak keluarga di Indonesia segala kalangan, baik untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk perjalanan jauh. Astrea Grand punya reputasi kuat sebagai motor yang bandel, bisa dipakai bertahun-tahun tanpa banyak masalah! Nah, di masa depan, ketika motor listrik udah mendominasi dan Astrea Grand makin langka, para kolektor bakal ngeliatnya sebagai simbol sejarah otomotif Indonesia.

Astrea Grand punya desain yang simpel tapi elegan, mesin yang mudah dirawat, dan daya tahan yang legendaris bikin motor ini cocok jadi buruan kolektor. Lagi pula, motor ini adalah salah satu dari sedikit motor bebek yang masih bisa bertahan dengan komponen orisinilnya sampai saat ini. Semakin langka motor ini ditemukan dalam kondisi bagus, makin tinggi juga nilainya. Siapa tahu, di masa depan, Honda Astrea Grand malah bakal jadi investasi yang nggak terduga?

Yang kedua, Yamaha F1ZR. Motor ini juga nggak kalah ikonik, deh. Dibanding Astrea Grand yang lebih kalem, F1ZR punya aura yang lebih sporty. Di masanya, motor ini memang sering dipakai buat balapan liar, atau sekadar dipamerin sama anak-anak muda dan untuk “mejeng”. Dengan bodi yang ramping dan mesin 2-tak yang terkenal bertenaga, F1ZR punya keunggulan tersendiri di hati para penggemar motor bebek keluaran Yamaha. Bukan cuma soal performanya saja, tapi juga desainnya yang dianggap keren dan futuristik di masa itu.

Sekarang, motor 2-tak udah jarang banget ada karena regulasi emisi yang ketat, jadi Yamaha F1ZR semakin langka. Di sinilah daya tariknya buat para kolektor: motor yang dulu dipakai buat kebut-kebutan sekarang jadi barang antik yang eksotis! Bahkan, ada yang rela bayar mahal buat dapetin F1ZR dalam kondisi orisinil, karena motor ini dianggap punya “jiwa” dan karakter yang susah dicari di motor-motor modern sekarang. Nggak heran, motor ini bisa jadi buruan kolektor ketika motor listrik udah merajai Indonesia.

Salah satu alasan kuat kenapa motor bebek kayak Honda Astrea Grand dan Yamaha F1ZR bakal jadi buruan kolektor adalah karena mereka “punya cerita”. Setiap motor ini pastinya punya sejarah panjang yang terukir di jalanan Indonesia. Mereka bukan cuma sekadar alat transportasi, tapi juga simbol dari era keemasan motor bebek dan zaman sebelum mesin listrik digunakan secara umum. Ketika motor listrik udah menguasai jalan, sepertinya motor-motor bebek ini bakal terlihat sebagai warisan budaya yang unik.

Selain itu, di masa depan, orang bakal semakin sulit menemukan motor-motor ini dalam kondisi orisinil. Komponen orisinilnya mungkin bakal susah didapat, dan itulah yang bikin motor-motor ini makin eksklusif. Semakin langka, semakin tinggi juga harganya. Jadi, buat para penggemar otomotif yang punya nostalgia dengan motor-motor ini, mereka pasti bakal rela berburu dan membayar mahal buat mendapatkan motor-motor ini dalam kondisi terbaiknya.

Jadi, kalau kamu masih punya Honda Astrea Grand atau Yamaha F1ZR di rumah, jangan buru-buru dijual. Mungkin di masa depan, motor-motor ini bakal jadi barang langka yang harganya melambung tinggi. Siapa tahu, motor bebek yang dulu kamu anggap biasa aja, ternyata bisa jadi investasi masa depan yang menggiurkan. Setuju?

Sumber : klik

Kejadian yg Bikin Kita Malu Sendiri Waktu Di SPBU, Kamu PERNAH?

Semua orang tidak asing dengan yang namanya stasiun pengisian bensin umum (spbu), bensin habis ya umumnya pergi ke spbu kan? Tapi meskipun kita sudah tidak asing dan sudah terbiasa terkadang ada hal yang membuat kita seperti baru mengenal spbu.

Beberapa kejadian saya alami sendiri dan beberapa dari pengamatan saya selama berada di spbu. Adakah kalian pernah mengalaminya sendiri, teman atau melihat orang lain?

Setahun setengah lalu jujur saja saya belum begitu mengenal spbu self service, otomatis saya tidak memahami prosedur dan cara mengisi bensin dikendaraan sendiri.

Suatu ketika dengan pedenya saya ikut mengantri, awalnya dibelakang saya tidak ada motor lain lalu beberapa menit kemudian dibelakang barisan mulai terisi panjang ada sekitar 7 motor. Dan ketika mendekati giliran, saya baru tersadar kalau spbu itu menerapkan self service, astaga saya seperti terjebak dalam kepolosan saya.

Mau bilang ‘nggak bisa’ tapi malu sangat sama petugasnya, mau keluar dari barisan tapi sumpah malu bener karena seolah semua mata yang antri dibelakang saya menatap tajam. Akhirnya dengan sok pe-denya saya berusaha tenang dan sok yakin, padahal tangan ini gemetar ketika baru pertamakali memegang tuas/noozlebensin lalu menuangkannya ke dalam tangki.

Bensin keluar seiprit demi seiprit, kadang kenceng.. kadang seperti mogok..pokoknya udah mirip orang lagi sakit anyang-anyangan, bikin sebel. Belum habis kegelisahan saya tiba-tiba suara dispenser berhenti dan bensin yang keluar dari tuas/noozle ikut berhenti, saya jadi bingung karena belum hilang rasa grogi saya tiba-tiba bensin sudah stop yang ternyata sudah selesai. Cepet banget, padahal kalau diisiin petugas butuh waktu beberapa menit gituu?

Bahkan ketika menaruh tuas/noozle pada lubang dispenser saya masih salah beberapa kali, nggak nyangka kalau ternyata berat pula, akhirnya dibantu petugas pomnya. Begitu kelar saya langsung tancep gas buru-buru keluar agar orang lain tidak sadar dengan ‘kemaluan’ saya. Muehehe…

Kasus kedua, yang cukup memalukan adalah ketika yakin isi bensin, “Mas pertalite 20 ribu yak,” kata saya, dengan sigap mas nya langsung bekerja sesuai Sop nya, kelar lalu ditagih bayar. “Astaga, saya lupa bawa dompet, uang receh dikantong ternyata kurang!” Antrian dibelakang saya seperti sudah tidak sabar. “Tinggal aja dulu motornya, ambil uangnya dulu” kata petugasnya. Motor pun saya parkir dipinggir dan saya langsung balik badan jalan kaki cepat-cepat serasa tidak ingin dilihat orang banyak.

Kasus ketiga, rebutan barisan antrian. Biasa kalau sudah ketemu yang punya jalan raya, kaum emak-emak.. kita musti waspada agar tidak berurusan dengannya. Waktu itu saya kalau tidak salah ada dibarisan ke empat dari depan, tiba-tiba ada seorang emak nyerobot 1 barisan didepan saya.

“Bu, ikut antri dibelakang dong, masa main serobot begini” kata didepan saya. “Saya buru-buru mas,” kata si emak ketus. Sampai tiba giliran dia tiba-tiba si emak kebingungan, “Loh, ini bukan pertalite, ya?” kata si emak ini, rupanya dia salah barisan, udah maunya selak antrian orang eh.. nggak mampu beli Pertamax pula.

Saya perhatikan dengan ekor mata ini si emak terdiam lalu sambil menunduk dia menuntun motornya ke barisan pertalite yang paling belakang. Ada-ada saja, ya.

Sumber : klik

Kesasar Di Tengah Laut Atau Di Tengah Gurun, Kamu Pilih Mana?

Selama hidupmu apa pernah kesasar karena tidak tahu atau tidak yakin dengan jalan yang dipilih? Kalau bawa kendaraan cara gampangnya ya tinggal cari puteran, hehe. Tapi kalau dihadapkan oleh dua pilihan kesasar ditengah laut atau gurun pasir kamu pilih yang mana?

Sehabis menonton sebuah chanel yutup tentang pengalaman Aldi sang nelayan Indonesia yang kesasar sampai ke Jepang tentu menjadi pengalaman hidup yang liar biasa. Tidak ada pilihan selain berusaha untuk bisa bertahan hidup, bak seekor semut ditengah lautan terombang ambing sepanjang waktu tidak tentu arah serta diselimuti oleh gelapnya malam ditengah lautan.

Berdasarkan kisah yang dialami Aldi si nelayan ini sepertinya terombang ambing di tengah laut lebih aman dan ada kemungkinan bisa diselamatkan oleh kapal yang lewat ketimbang terdampar di tengah gurun.

Pahitnya, kalau belum mendapat pertolongan maka perahu yg kehabisan bensin masih bisa berguna di tengah laut, di perahu kita bisa berteduh dan bisa sambil memancing dan makan apa adanya sampai bantuan datang. Syukur-syukur ombak laut bisa membawanya ketepian pulau berpenghuni sebelum bantuan datang.

Jika persediaan air habis seperti yang Aldi katakan dia sengaja menaruh apapun untuk dijadikan wadah menampung air hujan, jika persediaan air habis dia sengaja membasahkan air laut ke pakaian atau bahan apapun lalu agar kadar garamnya berkurang dia memeras pakaian tersebut.

Nah, sekarang semisal kamu tersasar ditengah gurun pasir bersama dengan kendaraanmu tetap ada kesempatan kendaraan terus melaju meski terbilang sulit melewati medan berpasir dan lama kelamaan bensin akan cepat habis. Ketika bensin habis maka kendaraanmu tidak berguna lagi, diam ditempat dan dalam hitungan detik langsung menjadi barang rongsokan.

Mungkin kamu bisa berteduh didalam kendaraanmu tapi tidak akan bertahan lama, suhu panas dan malam yang amat dingin membuatmu semakin kesulitan untuk berpindah ketempat lain. Bertahan dikendaraan pasti kehabisan makanan dan air, jika nekat jalan kaki digurun kamu tidak bisa berjalan cepat menuju desa terdekat atau jalan umum, kamu tidak akan menemukan kendaraan lewat dan hewan berbisa siap mematukmu atau Hering si burung bangkai diketinggian panas yang terik pun dengan sabar menanti ajalmu tiba.

Secara, jika disimpulkan pilihan untuk bisa bertahan hidup dan selamat adalah kesasar ditengah laut (meski siapapun termasuk saya pastinya tidak ingin memilih keduanya) daripada ditengah gurun tentu pengetahuan cara bertahan hidup (survival) dan takdir tetaplah menentukan.

Sumber : klik

Pernah Punya Impian Tak Kesampaian, Tapi Setelah Dewasa Hilang Atau Biasa Saja?

Namanya juga waktu bocil aka anak kecil adalah usianya bermain dan berkhayal. Kesukaan dan kesenangan terhadap sesuatu misalkan mainan robotan atau boneka adalah hal yang lumrah terjadi. Yang kasihan adalah kalau semisal punya keinginan tapi sampai dewasa belum juga terbeli karena keuangan orang tua terbatas.

Sebagai anak lelaki, kecilnya saya dulu sebutan anak orang kaya kalau mereka sudah punya mainan mobil yang ada remotenya, pesawat terbang pakai remote, sepatu roda, game watch, kaset video player (VHS). Ya, ampuun.. semua mainan itu sampai detik ini belum juga kesampaian saya miliki, sedih sebenernya tapi gimana lagi karena orangtua waktu itu tidak mampu membelikannya.

Tapi dari sekian mainan kesukaan yang saya sebutkan tadi rupanya saya punya kesukaan yang mungkin terbilang aneh, out of the box? Ya, saya begitu senang dan bahagia kalau sudah melihat rel kereta api! Apalagi kedua rel itu terlihat mengkilap dan terhubung antar rel lainnya. Entah kenapa ada rasa senang yang luar biasa setiap kali melihatnya.

Dari sekian impian dan keinginan yang paling tidak terwujud adalah memiliki rel kereta api untuk diboyong kerumah! Haha, lah wong mainan remote aja tidak terbeli apalagi harus memiliki sepasang rel kereta api, bagaimana cara orangtua saya membeli dan membawanya?

Makanya ketika saya berkesempatan mudik naik kereta waktu itu saya selalu meminta ayah saya untuk menemani menginjak-injak rel kereta api, berjalan mondar-mandir dengan langkah kecil dan sebentar kemudian mengelus-elusnya. Rasanya ada kepuasan tersendiri. Hm.

Namanya anak, tetaplah seorang anak yang kalau sudah punya keinginan biasanya merengek dan memaksa orangtua untuk membelikannya. Bisa ngambek berhari-hari. Tapi sekali lagi itu hanyalah impian saya kala itu, orangtua tetap tak mampu membelikannya.

Hingga suatu hari bapak saya sepulang kerja membawa satu box mainan berisi lengkap kereta api beserta rel dan jembatannya. “Selamat ulang tahun, ya,” kata ayah saya. Wah, saya senangnya bukan main tapi tetap belum terpuaskan kalau belum melihat kilauan rel baja yang mulus nan halus itu.

Satu lagi saya mau cerita impian mainan kesayangan yang benar-benar terwujud waktu itu adalah punya boneka E.T. (the Extra-Terrestrial)yang fenomenal kala itu. Saya berhasil memilikinya waktu ada pameran di Jakarta Fair, seharga Rp 8000 (awal tahun 90an) barang asli import Amerika. Ukurannya yang kecil, selesai sekolah kemana-mana selalu saya bawa, terlebih jika malam tiba biasanya saya masukan kedalam kaos sambil saya tekan tombol ON maka terlihat dari luar jari E.T menyala ‘blinkin’ dibalik kaos bergambar Lion Man, Megaloman atau Voltus V.

Saya kemudian berjalan sepanjang jalan kampung depan rumah mondar mandir memamerkan diri. Zaman itu termasuk hal yang keren! Semua anak memandang dan penasaran. Sayangnya boneka E.T ini kemudian hilang setelah saya pindahan rumah.

Nah, itulah sedikit curhatan saya sewaktu masih kecil dan sangat berkesan hingga detik ini. Sebenarnya untuk membeli mainan impian yang belum terwujud masa itu bisa saja saya beli sekarang tapi sepertinya saya tidak lagi membutuhkannya, cukup disimpan didalam ingatan agar lebih berkesan. Kamu bagaimana?

Sumber : klik