Musim Hujan Telah Tiba, Jangan Lupa 3M Ya!

Musim hujan telah tiba nih. Jangan lupa melakukan gerakan 3M sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI ya! 3M sendiri adalah singkatan untuk:

1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air secara rutin

2. Menutup tempat penampungan air, seperti kendi, bak kamar mandi, maupun kolam renang yang tidak digunakan
3. Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.

Selain gerakan 3M, penting juga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan rutin menggunakan obat nyamuk agar terhindar dari gigitan nyamuk Aedes. Semoga kita dan keluarga terhindar dari penyakit DBD!

Sumber : klik

Ketergantungan pada Teknologi di Era Modern, Seberapa Jauh Kita Bisa Pergi?

Di dunia yang semakin terhubung, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Bahkan, banyak yang mungkin merasa bahwa tanpa teknologi, hidup ini akan menjadi kacau dan tidak terorganisir. Saat kita bangun, apa yang pertama kali dicari? Smartphone. Saat bekerja, terutama di kantor, mau tidak mau kita intens menggunakan komputer, tablet, laptop, dan perangkat elektronik lainnya. Saat bersantai, kita menggunakan smartphone kita untuk main game, atau menyalakan TV maupun laptop untuk menonton film, bahkan saat menjelang tidur, kita masih asik dengan gadget kita, entah untuk sekedar chattingan atau scrolling media sosial. Pertanyaannya, sejauh mana kita benar-benar membutuhkan semua itu?

Apakah kita masih bisa mengingat waktu-waktu sebelum dunia digital menguasai hampir setiap aspek kehidupan kita? Mungkin dulu kita tak perlu menunggu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan, karena kita bisa langsung bertanya kepada seseorang di sekitar kita. Kini, jawabannya ada dalam genggaman tangan kita, hanya dengan mengetik beberapa kata di layar gadget kita, seluruh jawaban yang kita butuhkan dan inginkan akan muncul. Apakah ini kemajuan, atau justru sebuah pelarian dari kenyataan yang lebih kompleks?

Saat kita semakin tergantung pada mesin, pertanyaannya bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi itu, tapi juga tentang bagaimana kita bergantung padanya. Jika suatu hari teknologi ini tiba-tiba berhenti berfungsi, apakah kita masih bisa bertahan? Apakah kita akan merasa kehilangan arah, atau justru menemukan kembali keterhubungan dengan dunia nyata?

Terkadang, ketergantungan ini menyamar sebagai kenyamanan. Teknologi membuat hidup terasa lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien. Namun, apakah efisiensi ini berarti kita lebih bahagia? Apakah kita menjadi lebih produktif, atau hanya terperangkap dalam siklus tanpa akhir yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat tanpa pernah berhenti sejenak?

Lebih jauh lagi, adakah risiko yang kita ambil saat teknologi mendominasi ruang mental kita? Ketika kita mengandalkan algoritma untuk membuat keputusan, apakah kita masih menjadi individu yang bebas berpikir? Ataukah kita hanya menjadi bagian dari sistem yang memandu hidup kita tanpa kita sadari?

Ketergantungan kita pada teknologi membawa kita ke dalam dunia yang semakin terpisah antara dunia nyata dan dunia maya. Kita bisa saja merasa dekat dengan seseorang lewat pesan singkat, tapi benarkah kita merasa lebih dekat dengan mereka? Apakah teknologi benar-benar menghubungkan kita, atau justru menjauhkan kita dari apa yang benar-benar penting?

Di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, mungkin inilah saatnya untuk bertanya: Seberapa jauh kita ingin terus bergantung pada teknologi? Dan apakah kita siap menghadapi dunia yang mungkin tak lagi mengandalkan apa yang kita anggap sangat penting saat ini?

Ketergantungan pada teknologi memang tak terhindarkan, tetapi mungkin inilah waktu yang tepat untuk merenung dan mengambil jarak.

Sumber : klik

Nasib Penjual Kecil Ditengah Gempuran Official Store Di Marketplace? FJB Yuk, Gerak!

Sebagai pemilik usaha sampingan, rasanya nggak ada yang lebih bikin gemes kalau melihat harga di marketplace sekarang. Dulu, jualan di marketplace terasa kayak lahan subur buat usaha kecil seperti saya. Tapi sekarang, semenjak official store, merk ternama atau pemodal besar mulai dominan bikin persaingan harga jadi gila-gilaan. Kadang, barang yang saya jual tiba-tiba harganya bisa lebih mahal dari harganya official store, merk ternama, dan pemain besar, padahal saya udah nyari stok termurah sampai “ke ujung dunia”..

Perang harga ini nggak cuma soal siapa yang jual lebih murah, tapi juga soal siapa yang bisa bertahan. Official store, merk ternama atau pemain besar punya kekuatan buat ngasih diskon gede-gedean (bakar uang) dan promo tanpa batas. Sebagai penjual kecil, saya cuma bisa ngeliatin dengan miris. Belum lagi, sistem marketplace sebagai pihak ketiga yang seringkali otomatis nampilin produk yang lebih murah di urutan paling atas atau merubah algoritma sesukanya membuat penjual seperti saya seolah mati kutu dan sia-sia melakukan optimasi iklan.

Dengan harga yang lebih murah dan promo gila-gilaan otomatis banyak pembeli yang ngebandingin harga dan akhirnya milih produk mereka. Sebagai penjual kecil, tantangan terbesar ya jelas ngadepin dominasi mereka itu.

Ibarat saya menemui jalan buntu, tapi mereka punya akses langsung ke pintu utama untuk memdapatkan stok, dan bisa ngebanting harga. Sementara saya? Cuma bisa ikut arus, berusaha jaga margin kecil biar tetep dapet untung. Rasanya kayak, tiap kali ada official store yang jual produk serupa, peluang saya buat laku otomatis menurun drastis.

Gimana nggak stress, coba? Saya akhirnya harus benar-benar ngitung dengan teliti tiap biaya yang keluar, mulai dari modal barang, ongkos kirim, sampai biaya admin dari marketplace itu sendiri. Margin keuntungan jadi semakin tipis, tapi nggak ada cara lain selain ikut harga pasar. Karena kalo nggak, ya siap-siap aja dagangan nggak laku karena pembeli udah keburu milih yang lebih murah. Ini bikin saya mikir, apakah marketplace bener-bener tempat yang ramah buat penjual kecil seperti saya?

Persaingan jualan via online zaman sekarang memang semakin keras dan sengit, ibarat kolam yang sudah penuh sesak oleh ikan besar dan keberadaan saya si ikan kecil jadi nggak terlihat.

Saya jadi mikir, nggak adil rasanya kalo Official store, merk ternama atau pemain besar terlalu bebas mengatur harga seenaknya, sementara reseller, droshiper dan penjual kecil kayak saya harus ngikutin arus tanpa perlindungan. Saya ngerasa pemerintah perlu bikin aturan yang bisa melindungi kami di marketplace. Contohnya ada pembatasan diskon atau promosi yanh dilakukan mereka, biar kami juga punya kesempatan buat bersaing secara sehat.

Selain itu, ada baiknya marketplace menyediakan slot khusus atau mekanisme supaya produk seperti kami tetap bisa bersaing dan nggak kalah pamor sama produk mereka. Ini bukan cuma soal agar kami bisa jualan dengan nyaman, tapi juga soal bagaimana marketplace bisa jadi lahan usaha yang adil dan seimbang buat semua pemain. Karena pada akhirnya, saya yakin banyak pembeli yang juga pengen dukung penjual kecil, asalkan ada kesempatan yang setara buat kami bersaing.

Kalo situasi ini terus dibiarkan, takutnya kami reseller, dropshiper, dan pedagang kecil seperti saya bakalan tersingkir secara perlahan. Pembeli juga mungkin bakal makin jarang nemu pilihan barang yang unik atau berbeda karena semuanya dikuasai oleh brand besar dan kaku. Semoga saja regulasi yang adil bisa bantu menciptakan keseimbangan, adil dan membuat marketplace jadi tempat yang sehat buat semua.

Sumber : klik

Negara “Loyo” Harusnya Segera Sadar Dan Berantas 5 Hal Ini , Setuju?

Pernah nggak sih, kalian ngerasa kalau hidup dan tinggal di sebuah negara yang negaranya itu terasa loyo, kayak jalan di tempat? Ibarat tanaman, udah disiram air tapi tetap aja layu, boro-boro ngarep buahnya, berbunga saja nggak. Saking sabar dan lelahnya kita jadi cemburu ketika melihat negara lain yang tumbuh dan berkembang pesat, saya yakin negera saya tinggal bisa lebih dari mereka!

Menurut saya, ada lima hal yang wajib hukumnya segera di BERANTAS HABIS SAMPAI KE AKARNYA kalau kita pengen negara loyo itu bisa segar dan tumbuh subur. Bukan cuma soal pemerintah yang mesti kerja keras, tapi kita semua juga harus sadar dan bergerak penuh kesadaran, iklash dan kompak!

5 hal yang saya maksudkan adalah mulai dari urusan pinjol, judi online, korupsi, jual-beli hukum, sampai premanisme dan tukang parkir liar.

1. Berantas Pinjol (Pinjaman Online)
Pinjol itu seolah jadi jalan pintas yang bikin orang tergiur. Tapi, udah tahu sendiri kan kalau banyak orang yang akhirnya terjebak bunga tinggi yang mencekik akibat iklan pinjolnya sangatlah manis? Dari kasus utang menumpuk sampai ke intimidasi, pinjol nggak hanya merugikan secara finansial tapi juga mental. Negara harus bisa lebih tegas buat menutup semua pinjol ilegal ini. Kita juga harus sadar buat nggak lagi tergiur hal instan yang ternyata bikin rugi.

2. Berantas Judi Online
Gila, judi online itu udah kayak wabah. Mulai dari anak muda sampai orang tua, semuanya kalangan bisa kena! Masalahnya bukan cuma soal duit yang habis buat taruhan, tapi gimana efeknya ke kehidupan sosial. Orang-orang bisa jadi kecanduan, kehilangan kerjaan, kehilangan harta, dan kehilangan keluarga. Negara nggak boleh diam, harusnya judi online ini ditumpas sampai ke akarnya. Sulit, tapi tetap harus diperjuangkan, peran pemuka agama juga harus berada di depan!

3. Berantas Korupsi
Ngomongin korupsi tuh nggak ada habisnya, kayak ngukur jalan yang seolah nggak ada ujungnya. Padahal korupsi ini akar dari banyak masalah lainnya. Uang rakyat yang harusnya dipakai buat pembangunan, pendidikan, dan kesehatan, malah disikat oknum-oknum baik! Kalau korupsi nggak diberantas, ya siap-siap aja negara kita terus-terusan terjebak dalam lingkaran setan. Negara kaya makin miskin.

4. Hukum Jual Beli
Masalah yang sering bikin frustasi juga adalah ketika hukum bisa diperjualbelikan. Mau salah atau benar, semua bisa diatur asal ada duit. Banyak conroh sudah kita melihat dimedia orang benar dikalahkan atau hatinurani dibutakan karena kalah harta dan jabatan. Kalau negara kita mau maju, hukum harus adil dan nggak boleh bisa dibeli. Orang salah ya harus dihukum, yang benar harus dibela, bukan malah sebaliknya. Hukum yang adil bakal bikin kita semua lebih percaya sama negara!

5. Premanisme dan Tukang Parkir Liar
Satu lagi yang sering bikin kita gregetan, premanisme dan tukang parkir liar. Ke mana-mana ada aja yang pungut duit, bahkan di tempat yang harusnya gratis. Ini bukan cuma soal duit receh yang hilang, tapi juga soal keamanan dan kenyamanan kita. Negara harus lebih tegas buat membersihkan preman dan tukang parkir liar ini. Buat aturan yang tegas dan membuat jera Kita butuh ruang publik yang aman dan nyaman, bukan malah was-was.

Kalau kita sadar dan kompak bisa ngelakuin ini semua, harapan saya pelan-pelan negara yang sudah ‘loyo’ ini bisa segar lagi, bisa tumbuh subur, berbunga dan berbuah manis! Mungkin kita nggak bisa langsung ngelihat hasilnya besok, tapi untuk anak cucu kita yang dimulai dari sekarang!

Sumber : klik

Keluar Showroom Kendaraan Langsung Di Modif ‘Bikin Apes’, Mitos Ataukah Fakta?

Berkembang mitos di masyarakat kalau beli kendaraan motor atau mobil dengan cara kredit nggak boleh di modif dulu karena “pamali”. Tapi bertolak belakang bagi beberapa orang termasuk saya, pastinya udah gatel duluan mau nambahin aksesoris, upgrade ini dan itu atau modif performa sekalian. Well, nyatanya sampai sekarang aman-aman saja asalkan kita percayakan ke orang yang benar-benar ahli dibidangnya.

Tapi maksud saya disini bukan itu. Ketika kendaraan dibeli dengan status kredit sejatinya belum 100% milik kita, jadi kalau ada masalah ditengah jalan, pahitnya kendaraan ditarik pihak leasing maka pemilik kendaraan bisa rugi 4x: pertama kendaraan tidak lagi ditangan, kedua sudah habis biaya dan waktu buat nambah aksesori dan upgrade performa, bisa menghilangkan garansi dan asuransi, harga jual langsung jatuh.

Secara legal, motor atau mobil yang kita kredit infonya masih jadi milik pihak leasing atau bank sampai semua cicilan lunas apalagi kalau dibeli secara Syariah. Jadi, kalau kita langsung modif tanpa pikir panjang, itu bisa bikin masalah serius terutama bila dimodif bagian kelistrikkan atau performa secara serius, dianggap sudah melanggar perjanjian kredit. Risikonya ya bisa macem-macem, mulai dari denda sampe pihak leasing atau bank nahan BPKB kita lebih lama.

Soal garansi pabrik juga jadi pertanyaan. Biasanya, kalau kendaraan masih dalam masa garansi, segala bentuk modifikasi bisa bikin garansi itu hilang. Contoh sederhana, kamu ganti knalpot standar jadi knalpot racing buat suara lebih gahar. Mungkin kedengarannya keren, tapi kalau ada masalah sama mesin, pabrik atau dealer bisa nolak klaim garansi karena kamu dianggap sudah merusak sistem yang ada. Padahal, kalau dibiarkan standar, segala masalah teknis yang terjadi masih bisa ditanggung tanpa biaya tambahan.

Di sisi lain, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, modifikasi juga bisa bikin asuransi nggak mau nanggung kalau ada kerusakan atau kecelakaan. Kebanyakan polis asuransi mencantumkan kendaraan sesuai spesifikasi awalnya. Jadi, begitu kamu modif, misalnya ganti warna bodi atau tambah aksesoris, dan enggak lapor ke perusahaan asuransi, mereka bisa punya alasan buat nolak klaimmu. Itu artinya, kalau ada kecelakaan atau insiden, kamu harus tanggung biaya perbaikan sendiri yang bisa jadi lumayan mahal.

Banyak orang mungkin mikir kalau modif itu bisa bikin kendaraan lebih keren dan bernilai lebih tinggi, tapi faktanya enggak selalu begitu. Pembeli barang sekon rata-rata lebih suka kendaraan yang masih standar dari pabrik, karena mereka merasa lebih yakin sama kualitas dan kondisi aslinya. Kalau kendaraan udah dirombak sana-sini, bisa jadi malah dianggap ribet, dianggap menutupi kekurangan, atau rawan rusak, dan akhirnya harga jualnya justru turun.

Kalau dipikir-pikir lagi, modifikasi memang punya daya tarik tersendiri. Tapi, menurut saya, mending sabar sedikit sampai cicilan lunas, baru deh bebas modif sesuka hati. Saat kredit sudah lunas, kendaraan otomstis resmi jadi milik kita sepenuhnya, enggak ada lagi beban leasing atau aturan asuransi yang rumit. Kita juga lebih tenang kalau ada masalah teknis karena semuanya di bawah kendali kita.

Lagipula, modifikasi juga butuh biaya tambahan, yang mungkin bisa dialihkan dulu buat bayar cicilan atau keperluan lain yang lebih penting. Masih mau nekat, resiko ditanggung sendiri, boss. Jadi apakah ini Mitos ataukah Fakta, menurut saya ini fakta.

Sumber : klik